-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Ketum Bhumi Literasi Ajak Masyarakat Menulis Opini Berbasis Fakta untuk Lawan Hoaks dan Disinformasi

    Bhumi Literasi
    Friday, July 10, 2026, July 10, 2026 WIB Last Updated 2026-07-11T06:34:14Z

    Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk aktif menulis opini yang berbasis fakta sebagai salah satu upaya melawan maraknya hoaks dan disinformasi di era digital. Menurutnya, derasnya arus informasi di media sosial menuntut masyarakat tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi penyebar informasi yang bertanggung jawab.

    Rizal Mutaqin menegaskan bahwa opini memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik. Namun, opini yang disampaikan harus berlandaskan data, fakta, dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekedar asumsi atau informasi yang belum terverifikasi. Ia menilai bahwa opini yang berkualitas dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas.

    Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah memberikan kemudahan bagi siapa pun untuk menyampaikan pendapat di ruang digital. Di sisi lain, kemudahan tersebut juga memunculkan tantangan berupa penyebaran hoaks, misinformasi, dan disinformasi yang dapat memecah belah masyarakat serta menurunkan kepercayaan publik terhadap berbagai institusi.

    Rizal menjelaskan bahwa salah satu cara efektif melawan informasi palsu adalah dengan memperkuat budaya literasi. Masyarakat perlu membiasakan diri melakukan pengecekan fakta sebelum mempercayai atau membagikan suatu informasi. Sikap kritis dan kemampuan memverifikasi sumber merupakan keterampilan yang sangat penting di era digital saat ini.

    Ia juga mengajak para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, akademisi, jurnalis, hingga masyarakat umum untuk mulai menuangkan gagasan mereka dalam bentuk tulisan opini. Melalui tulisan, masyarakat dapat memberikan perspektif yang objektif, membangun diskusi yang sehat, dan menghadirkan informasi yang mencerahkan.

    Ketum Bhumi Literasi menilai bahwa penulis opini memiliki tanggung jawab moral untuk menyajikan argumentasi yang didukung fakta. Dengan demikian, ruang publik digital tidak dipenuhi oleh narasi yang menyesatkan, melainkan oleh pemikiran yang konstruktif dan solutif bagi bangsa.

    Lebih lanjut, Rizal mengatakan bahwa literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak. Kemampuan ini menjadi benteng utama dalam menghadapi berbagai bentuk manipulasi informasi yang semakin kompleks.

    Bhumi Literasi Anak Bangsa, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendorong lahirnya penulis-penulis opini dari berbagai daerah di Indonesia. Bhumi Literasi ingin menciptakan ekosistem literasi yang mampu menghasilkan karya-karya tulisan yang informatif, edukatif, dan berdampak positif bagi masyarakat.

    Rizal juga mengingatkan bahwa setiap warga negara memiliki peran dalam menjaga kualitas informasi di ruang publik. Ia berharap masyarakat tidak mudah terpancing oleh judul sensasional, melainkan membiasakan diri membaca secara utuh, melakukan verifikasi, dan membandingkan berbagai sumber informasi sebelum mengambil kesimpulan.

    Menutup pernyataannya, Rizal Mutaqin mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan budaya menulis berbasis fakta sebagai gerakan bersama. Dengan semakin banyaknya opini yang lahir dari data dan kebenaran, diharapkan masyarakat Indonesia semakin cerdas, kritis, serta mampu menjadi garda terdepan dalam melawan hoaks dan disinformasi demi menjaga persatuan dan kemajuan bangsa.
    Komentar

    Tampilkan