-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    PARADOKS DIGITALISASI “Jangan Gaptek, Bikin Kota Sepi!”

    Bhumi Literasi
    Tuesday, November 18, 2025, November 18, 2025 WIB Last Updated 2025-11-18T18:23:07Z

    By: D. S. Dharmopadni

    Dalam satu dekade terakhir, banyak kota berlomba-lomba mengadopsi teknologi digital untuk menyandang predikat “smart city”. Mulai dari pelayanan publik berbasis aplikasi, jaringan Wi-Fi kota sampai dengan papan informasi real time. Dengan narasi yang seringkali muncul “semakin tinggi investasi teknologi, maka akan semakin menarik sebuah kota untuk dikunjungi atau ditempati”.


    Namun, sebuah jurnal internasional yang dirilis pada tahun 2025 oleh Marchesani, Ceci, dan McCarthy, memberikan pandangan atau perspektif yang berbeda. Penelitian ini menunjukkan bahwa digitalisasi sebuah kota tidak selalu linier meningkatkan daya tarik dari kota tersebut. Bahkan pada titik tertentu dampak dari digitalisasi kota bisa menurun untuk kelompok pendatang tertentu. Temuan ini penting sekali karena bisa membantu pemerintah daerah, perencana perkotaan, dan para pelaku industri untuk dapat memahami bahwa transformasi digital tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur saja, tetapi juga pada pengalaman serta kemampuan para warga dalam menggunakannya.


    Studi tersebut menganalisis 30 kota di Italia selama 12 tahun yaitu mulai tahun 2010-2021 untuk memahami hubungan antara digitalisasi kota (DTI) dan urban attractiveness yaitu daya tarik terhadap tiga kelompok pendatang (warga domestik yang pindah kota, mahasiswa, dan wisatawan). Hasilnya menunjukkan pola inverted-U atau disebut dengan hubungan “naik lalu turun”. Menurut Marchesanu dkk (2025) digitalisasi memang membuat peningkatan daya tarik kota pada fase awal, tetapi setelah mencapai tingkat tertentu, dampaknya bisa menurun, terutama bagi para pendatang domestik seperti warga lokal yang pindah kota, mahasiswa dalam negeri, dan wisatawan lokal. Peneliti menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena kompleksitas teknologi yang terus meningkat sehingga menimbulkan “digital fatigue”, khususnya bagi warga yang belum sepenuhnya siap atau bahkan gaptek a.k.a kurang melek digital. Ketika aplikasi dan layanan makin kompleks, maka sebagian warga justru merasa terpinggirkan karena kesulitan memanfaatkan layanan publik atau aplikasi tersebut. Sekali lagi, karena tidak semua kelompok masyarakat mengikuti percepatan digitalisasi ini dan pada akhirnya teknologi yang seharysnya memudahkan malah menjadi suatu hambatan bagi mereka.


    Yang menarik disini, dampak menurunnya daya tarik kota hanya terjadi pada pendatang domestik. Untuk pendatang internasional seperti wisatawab dan mahasiswa asing, peningkatan digitalisasi ini malah memberikan dampal positif. Mengapa ? karena wisatawan internasional lebih terbiasa menggunakan layanan digital, mereka juga menggunakan teknologi sebagai alat utama navigasi, komunikasi, dan perencanaan perjalanan selain itu pendatang internasional memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi berbahasa internasional. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi kota seringkali lebih mudah diakses oleh pendatang global dibanding penduduk lokal itu sendiri.


    Penelitian ini juga menambahkan variabel seperti media sosial mempengaruhi daya tarik urban. Data media sosial berasal dari platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, Youtube, dan Linkedln. Lalu dilakukan analisa secara histori selama 12 tahun. Dan hasilnya menunjukkan bahwa media sosial memperkuat pengaruh positif digitalisasi, khususnya bagi pendatang domestik, bahkan terbukti memperpanjang batas manfaat digitalisasi yang artinya penduduk lokal dapat menikmati manfaat teknologi lebih lama sebelum dampaknya menurun. Namun, efek dari moderasi media sosial ini tidak signifikan bagi pendatang internasional. Mereka lebih banyak mengandalka platform global dan informasi pariwisata internasional dibanding kanal resmi.


    Berdasarkan penelitian tersebut, banyak pemerintah daerah sedang gencar menyiapkan layanan kota digital atau smart city, mulai dari super app daerah, dashboard pintar, e-government hingga command center. Namun, temuan Marchesani dkk memberikan sinyal bahwa digitalisasi butuh strategi, bukan hanya investasi. Dengan menambah fitur aplikasi smart city tanpa memikirkan pengguna hanya akan menambah kompleksitas saja. Jika masyarakat belum siap, digitalisasi justru menjadi beban dan menurunkan daya tarik suatu kota. Selain itu, smart city harus beorientasi pada manusia, bukan hanya teknologi. Dalam hal ini, infrastruktur digital harus ramah, inklusif, dan mudah untuk dipahami. Oleh karena itu, digitalisasi harus diiringi dengan literasi digital. Jika tidak, maka kelompok yang lemah atau kurang melek digital akan semakin tertinggal. Pada akhirnya akan tersirat pesan yang sangat jelas dari penelitian ini, yaitu Smart City bukan hanya sebuah kota dengan teknologo yang canggih, akan tetapi merupakan kota yang membuat masyarakat/penduduknya hidup lebih mudah, lebih nyaman, dan lebih inklusif. Kota yamg terlalu cepat berlari dalam dunia digitalisasi tanpa memikirkan kesiapan masyarakat atau penduduknya justru dapat kehilangan sebagian daya tarinya. Sebaliknya, kota yang memabngun teknologi dengan pendekatan manusiawi dengan mengutamakan akses, kepastian, dan kebermanfaatan akan menjadi kota yang benar-benar smart.


    Teknologi hanyalah sebuah alat, sedangkan tujuan akhirnya tetaplah kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat. Seperti yang disimpulkan oleh Marchesani dkk (2025) “Digital transformation can increase urban attractiveness, but only if citizens can understand, access, and effectively use the digital tools provided.” Pertanyaannya adalah “Apakah digitalisasi kota-kota di Indonesia ini sudah benar-benar berpihak kepada penduduknya atau justru malah membuat sebagian dari mereka tertinggal?”

    Komentar

    Tampilkan