Bedah Buku
Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan
Sang Jenderal Pecinta Buku
Judul: Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan
Penulis: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc.
Subjek Biografi: Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc.
Penerbit: Alungcipta berkolaborasi dengan Bhumi Literasi Anak Bangsa
Tahun Terbit: 2026
Pendahuluan
Buku Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan bukan sekedar biografi seorang perwira tinggi TNI, melainkan sebuah narasi reflektif tentang perjalanan hidup, nilai, dan makna pengabdian. Melalui kisah Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc., pembaca diajak menelusuri perjalanan seorang anak dari keluarga sederhana yang ditempa oleh kehilangan, keterbatasan, dan disiplin hidup, hingga menjadi jenderal, akademisi, dan penggerak literasi.
Keunikan buku ini terletak pada pendekatannya yang humanis. Jabatan dan pangkat tidak dijadikan pusat cerita, melainkan ditempatkan sebagai konsekuensi dari proses panjang pembentukan karakter. Buku ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari nilai, bukan dari kekuasaan.
Gambaran Umum Isi Buku
Secara struktur, buku ini disusun kronologis dan terbagi dalam beberapa bagian besar yang merepresentasikan fase kehidupan tokoh. Dimulai dari akar kehidupan keluarga, masa kecil yang penuh kesederhanaan, tragedi kehilangan ayah, hingga perjalanan panjang di dunia militer, akademik, dan literasi.
Judul Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan kisah. Penulis berulang kali menunjukkan bahwa peristiwa penting dalam hidup tokoh, baik kegagalan maupun keberhasilan, sering kali terjadi di luar rencana manusia, namun justru membuka jalan yang lebih bermakna.
Nilai-Nilai Utama dalam Buku
1. Integritas sebagai Warisan Hidup
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah penekanan pada nilai integritas yang diturunkan dari sang ayah, seorang perwira TNI AU. Sikap tegas menolak gratifikasi, hidup tanpa utang, dan tidak mengambil hak orang lain ditampilkan melalui kisah nyata, bukan jargon moral. Nilai ini kemudian menjadi kompas moral Nugraha Gumilar sepanjang hidupnya, terutama dalam dunia militer yang sarat godaan kekuasaan.
2. Kesulitan sebagai Ruang Pembentukan Karakter
Tragedi jatuhnya pesawat CN-212 yang merenggut nyawa sang ayah menjadi titik balik paling menentukan. Buku ini dengan jujur menggambarkan dampak psikologis dan ekonomi yang harus ditanggung keluarga. Namun, alih-alih menjadikan tragedi sebagai alasan untuk meratap, narasi justru menunjukkan bagaimana kesulitan membentuk kemandirian, disiplin, dan daya juang sejak usia sangat muda.
3. Literasi sebagai Jalan Pembebasan
Julukan Sang Jenderal Pecinta Buku bukan hiasan semata. Buku ini menempatkan literasi sebagai kekuatan utama dalam perjalanan hidup tokoh. Membaca menjadi pelarian dari kesedihan, sekaligus sumber harapan dan mimpi. Buku dan koran digambarkan sebagai “jendela dunia” yang membebaskan pikiran dari keterbatasan ekonomi dan lingkungan.
Literasi dalam buku ini tidak berhenti pada aktivitas personal, tetapi berkembang menjadi misi sosial melalui keterlibatan tokoh dalam penguatan budaya baca dan pendidikan.
4. Kepemimpinan yang Memanusiakan
Dalam bagian-bagian yang mengisahkan penugasan militer, buku ini menampilkan model kepemimpinan yang humanis. Kepemimpinan dipahami sebagai kemampuan memanusiakan manusia: adil kepada bawahan, konsisten pada aturan, dan hadir sebagai teladan. Buku ini menolak gambaran pemimpin otoriter, dan justru mengangkat figur pemimpin yang mendengar, memahami, dan berpikir jauh ke depan.
Gaya Penulisan dan Kekuatan Narasi
Rizal Mutaqin menulis dengan gaya reflektif dan naratif. Bahasa yang digunakan relatif lugas, emosional pada bagian tertentu, namun tetap terjaga objektivitasnya. Penulis tidak menempatkan tokoh sebagai figur tanpa cela, melainkan sebagai manusia yang pernah gagal, ragu, dan jatuh, tetapi memilih bangkit.
Kekuatan buku ini terletak pada detail-detail kehidupan sehari-hari: rumah sederhana di ujung gang, ibu yang berdagang di pasar, anak yang mengurus sekolah sendiri, hingga kegagalan berulang dalam seleksi pendidikan militer. Detail semacam ini membuat pembaca merasa dekat dan terhubung secara emosional.
Relevansi dan Kontribusi Buku
Buku ini relevan dibaca oleh berbagai kalangan:
Generasi muda, sebagai inspirasi bahwa keterbatasan bukan penghalang masa depan.
Pendidik dan pegiat literasi, karena buku ini menegaskan peran membaca dalam pembentukan karakter.
Aparatur negara dan pemimpin, sebagai refleksi tentang kepemimpinan berbasis nilai dan integritas.
Kontribusi buku ini adalah memperkaya khazanah biografi Indonesia dengan pendekatan nilai dan refleksi, bukan sekedar pencatatan prestasi.
Penutup
Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan adalah buku tentang perjalanan, bukan hasil instan. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia, tetapi selalu memiliki makna bagi mereka yang mau berusaha, belajar, dan berserah. Buku ini mengingatkan pembaca bahwa kebaikan, kejujuran, dan ketekunan mungkin tidak selalu memberi hasil cepat, tetapi tidak pernah sia-sia.
Lebih dari kisah seorang jenderal, buku ini adalah cermin kehidupan, tentang bagaimana Tuhan bekerja melalui proses yang sunyi untuk membuka jalan yang lebih besar.


