Dewan Pengurus Pusat Bhumi Literasi Anak Bangsa resmi meluncurkan sebuah buku inspiratif berjudul Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan (Sang Jenderal Pecinta Buku). Buku ini menjadi karya reflektif yang merekam perjalanan pengabdian, nilai spiritual, serta kecintaan terhadap literasi dalam bingkai kehidupan seorang tokoh bernama Nugraha Gumilar.
Buku tersebut ditulis oleh Rizal Mutaqin dan disempurnakan oleh Dwi Shinta Dharmopadni. Dengan ISBN 978-634-7320-67-4, buku ini diterbitkan pada awal tahun 2026 dan terdiri atas ix + 128 halaman. Kehadirannya menambah khazanah literatur biografis reflektif yang mengangkat nilai keteladanan dan pemikiran kebangsaan.
Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan tidak sekedar menyajikan kisah hidup, tetapi juga menghadirkan perenungan mendalam tentang bagaimana iman, ketekunan, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan menjadi fondasi dalam menapaki jalan pengabdian. Narasi yang disajikan mengalir reflektif, mengajak pembaca memahami makna perjalanan hidup dari sudut pandang spiritual dan kemanusiaan.
Sosok Nugraha Gumilar dalam buku ini digambarkan sebagai figur jenderal yang memiliki kecintaan mendalam terhadap buku dan dunia literasi. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab besar, membaca dan berpikir menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pengambilan keputusan dan pembentukan karakter kepemimpinan.
Penulis menekankan bahwa buku ini ditujukan sebagai warisan pemikiran. Melalui kisah dan refleksi yang disajikan, pembaca diajak melihat bahwa pengabdian kepada bangsa tidak hanya diwujudkan melalui jabatan, tetapi juga melalui keteladanan, nilai moral, dan konsistensi dalam belajar sepanjang hayat.
Dewan Pengurus Pusat Bhumi Literasi Anak Bangsa menyampaikan bahwa penerbitan buku ini sejalan dengan visi organisasi dalam menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat. Buku ini diharapkan dapat menjadi jembatan inspirasi antara tokoh bangsa dan generasi muda yang sedang mencari arah dan makna pengabdian.
Salah satu pesan yang diangkat dalam buku ini adalah pentingnya membaca sebagai fondasi berpikir kritis dan bijaksana. Literasi diposisikan bukan sekedar kemampuan teknis, melainkan sebagai jalan membentuk karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Kehadiran buku ini juga menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Setiap fase, tantangan, dan pencapaian dipahami sebagai bagian dari jalan yang dibukakan melalui doa, usaha, dan ketulusan niat.
Bagi generasi muda, buku ini menawarkan inspirasi tentang bagaimana menggabungkan iman, intelektualitas, dan pengabdian dalam satu tarikan napas. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam melanjutkan estafet pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Dengan terbitnya Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan (Sang Jenderal Pecinta Buku), Bhumi Literasi Anak Bangsa berharap buku ini dapat diterima luas oleh masyarakat dan menjadi bacaan bermakna. Lebih dari sekedar buku biografi, karya ini diharapkan menjadi sumber inspirasi yang menyalakan semangat membaca, berpikir, dan berkarya demi Indonesia yang lebih beradab dan berpengetahuan.


