-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Diskusi Lintas Keyakinan di Pertapaan Karmel Ngadireso, Gus Ilmi Najib Ajak Rawat Persatuan Bangsa

    Bhumi Literasi
    Wednesday, January 21, 2026, January 21, 2026 WIB Last Updated 2026-01-22T02:49:20Z

     


    Ketua DPW Jawa Timur Bhumi Literasi Anak Bangsa, Gus Ilmi Najib, menghadiri sekaligus menjadi pembicara dalam kegiatan Diskusi Lintas Keyakinan bertajuk “Berbeda Adalah Anugerah” yang diselenggarakan pada Kamis, 22 Januari 2026.

    Kegiatan ini berlangsung di Pertapaan Karmel Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan lintas keyakinan yang memiliki kepedulian terhadap isu keberagaman, persatuan, dan kemanusiaan.

    Diskusi lintas keyakinan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman bersama bahwa perbedaan agama, suku, dan budaya merupakan bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Tema “Berbeda Adalah Anugerah” diangkat sebagai pengingat bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan fondasi persatuan.

    Dalam kesempatan tersebut, Gus Ilmi Najib membersamai sejumlah pemateri luar biasa, di antaranya Dr. Mahpur dan Suster Meria, yang turut memberikan perspektif mendalam mengenai nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan dari sudut pandang masing-masing keyakinan.

    Salah satu ungkapan yang disampaikan dalam diskusi adalah bahwa penerapan nilai-nilai keberagaman harus selalu berpijak pada sejarah bangsa Indonesia. Indonesia berdiri atas kesepakatan berbagai suku bangsa dan kelompok keyakinan untuk hidup bersama dalam satu negara.

    Para pemateri menegaskan bahwa untuk mewujudkan ke-Indonesia-an yang utuh, dibutuhkan persatuan dan kesatuan yang kokoh. Perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk saling meniadakan, melainkan sebagai ruang untuk saling mengenal dan memahami.

    Dalam setiap agama, prinsip kemanusiaan dijunjung tinggi. Nilai tersebut menjadi bentuk ekspresi ketauhidan dalam menerapkan ajaran yang bersifat esensial, tekstual, dan kontekstual. Namun, tantangan muncul ketika pemahaman tersebut disalahartikan.

    Disebutkan bahwa perpecahan hingga radikalisme kerap muncul karena dua faktor utama, yaitu tidak memahami sejarah berdirinya bangsa Indonesia serta kesalahan dalam menafsirkan teks-teks keagamaan. Hal inilah yang perlu diluruskan melalui dialog dan literasi lintas iman.

    Menariknya, diskusi ini juga menyoroti peran generasi muda yang dinilai semakin dewasa dalam menyikapi keberagaman. Mereka lebih objektif dalam menyerap informasi dan aktif membangun narasi positif yang menolak kekerasan antaragama maupun antarsuku.

    Dengan sikap generasi muda yang apresiatif terhadap perbedaan dan perubahan, para peserta diskusi optimistis bahwa Bangsa Indonesia akan terus berjalan dalam kedamaian. Diskusi lintas keyakinan seperti ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk merawat persatuan dan memperkuat harmoni kebangsaan. 

     



     

    Komentar

    Tampilkan