Kolonel Laut (KH) Bayu Kurnianto, M.T.I., CHRMP., menciptakan sebuah lagu berjudul “Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan” dalam rangka peluncuran buku Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan (Sang Jenderal Pecinta Buku). Lagu ini menjadi bagian dari rangkaian peluncuran buku yang mengisahkan perjalanan hidup Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc., seorang perwira tinggi TNI yang dikenal sebagai figur pemimpin berkarakter dan pecinta literasi.
Lagu “Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan” diciptakan Bayu Kurnianto dengan pendekatan yang jujur dan apa adanya. Liriknya menggambarkan perjalanan hidup Mayjen Nugraha Gumilar secara mendalam, tanpa dramatisasi berlebihan, sehingga mampu menyentuh emosi serta menghadirkan makna yang kuat bagi setiap hati dan jiwa yang mendengarkannya.
Menurut Bayu, lagu ini lahir dari kekaguman terhadap kisah hidup Mayjen Nugraha Gumilar yang sarat dengan nilai keteguhan, kesabaran, dan keimanan. Melalui rangkaian nada dan kata, lagu tersebut diharapkan dapat menjadi medium refleksi bahwa dalam setiap fase kehidupan, selalu ada campur tangan Tuhan yang bekerja dengan cara-Nya sendiri.
Buku Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan (Sang Jenderal Pecinta Buku) sendiri mengisahkan perjalanan hidup Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc. Kisah ini menyoroti bagaimana keterbatasan, kehilangan, dan kesederhanaan justru menjadi pintu pembuka bagi lahirnya integritas, keteguhan karakter, serta kepemimpinan sejati.
Dikisahkan, Nugraha Gumilar tumbuh dalam keluarga sederhana prajurit TNI Angkatan Udara. Masa kecilnya berubah drastis ketika sang ayah gugur dalam tragedi jatuhnya pesawat CN-212, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-12. Peristiwa tersebut tidak hanya mengakhiri masa kanak-kanaknya, tetapi juga memaksanya untuk tumbuh lebih cepat dan memaknai hidup dengan kedewasaan yang lahir dari duka.
Di tengah guncangan psikologis dan ekonomi keluarga, sosok ibu hadir sebagai simbol ketangguhan. Dari aktivitas sederhana di pasar tradisional hingga kehidupan di rumah yang apa adanya, Gumilar kecil belajar tentang kerja keras, hidup hemat, disiplin, serta tanggung jawab sejak usia dini. Nilai-nilai inilah yang kemudian membentuk fondasi kepribadiannya.
Buku ini juga menelusuri bagaimana kebiasaan membaca dan kecintaan pada buku menjadi pelarian sekaligus sumber kekuatan bagi Nugraha Gumilar. Literasi membentuk cara berpikir kritis, memperluas wawasan, serta menumbuhkan visi jangka panjang yang kelak sangat berperan dalam perjalanan karier dan kepemimpinannya.
Nilai kejujuran, hidup sederhana, serta sikap tegas untuk tidak mengambil hak orang lain menjadi warisan moral dari sang ayah yang terus dipegang teguh. Nilai-nilai tersebut menjadi kompas dalam setiap pilihan hidup, baik dalam pendidikan, karier militer, maupun saat mengemban tanggung jawab kepemimpinan strategis.
Melalui perjalanan panjang yang tidak selalu mulus, buku ini menunjukkan bahwa kegagalan, jabatan sunyi, dan penantian panjang justru menjadi ruang di mana “Tangan Tuhan” bekerja secara senyap membuka jalan terbaik. Jalan hidup yang berliku menjadi proses pematangan karakter dan penguatan iman.
Peluncuran buku yang akan diiringi lagu “Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan” ini menegaskan bahwa kisah Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar bukan sekedar cerita karier seorang jenderal. Lebih dari itu, kisah ini adalah refleksi tentang kekuatan iman, ilmu, dan karakter, serta pesan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kesederhanaan, dibesarkan oleh nilai, dan dikuatkan oleh keyakinan bahwa setiap usaha yang jujur tidak pernah sia-sia.


