-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Pelajaran Hidup dari 23 Januari 1980

    Bhumi Literasi
    Wednesday, January 21, 2026, January 21, 2026 WIB Last Updated 2026-01-22T00:03:11Z


    Tanggal 23 Januari 1980 bukan sekedar penanda waktu, tetapi menjadi garis tak terlihat yang membelah hidup Nugraha Gumilar menjadi “sebelum” dan “sesudah”. Di usia 12 tahun, ketika dunia anak seharusnya diisi dengan sekolah, bermain, dan cita-cita, ia justru dihadapkan pada kabar yang tak pernah siap diterima siapa pun: pesawat yang membawa ayahnya dinyatakan hilang.

    Hari itu kegiatan seperti biasa. Sarapan pagi, rutinitas keluarga, dan kepergian seorang ayah untuk menjalankan tugasnya. Namun menjelang siang, ketenangan berubah menjadi kecemasan ketika kabar hilangnya pesawat tersebar. Hujan deras di sekitar Gunung Sanggabuanan, Jatiluhur, seolah menjadi simbol ketidakpastian yang menyelimuti harapan keluarga.

    Menunggu adalah fase paling menyakitkan dalam sebuah kehilangan. Berhari-hari tanpa kepastian, menggantungkan harapan pada doa dan kemungkinan kecil. Hingga akhirnya, menjelang Jumat sore, kabar itu datang, pesawat ditemukan, dan seluruh penumpang dinyatakan wafat. Harapan pun runtuh, digantikan oleh kenyataan yang pahit.

    Kematian mendadak selalu meninggalkan luka yang dalam, terlebih bagi keluarga yang sama sekali tidak siap. Seorang ibu yang sehari-hari berjualan kelontong di pasar harus menerima kenyataan pahit: membesarkan tujuh anak seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan tekanan batin, duka tidak diberi ruang untuk lama-lama diratapi, karena hidup harus terus berjalan.

    Bagi Nugraha Gumilar, kehilangan ayah di usia 12 tahun berarti kehilangan figur teladan di fase paling penting pembentukan karakter. Seorang anak kelas 6 SD harus belajar memahami arti tanggung jawab, ketabahan, dan kedewasaan lebih cepat dari seharusnya. Luka itu tidak selalu terlihat, tetapi diam-diam membentuk cara pandang terhadap hidup.

    Kehadiran para sahabat dan rekan ayahnya, termasuk para pejabat yang datang untuk melayat, menunjukkan bahwa duka juga memiliki sisi kemanusiaan yang hangat. Solidaritas sosial di saat-saat sulit menjadi pengingat bahwa manusia tidak sepenuhnya sendirian ketika kehilangan, meski rasa sepi tetap tak tergantikan.

    Peristiwa ini mengajarkan bahwa hidup bisa berubah hanya dalam hitungan jam. Apa yang pagi hari masih utuh, siang harinya bisa runtuh tanpa aba-aba. Kesadaran ini sering kali datang terlambat bagi banyak orang, namun bagi mereka yang mengalaminya sejak dini, hidup menjadi ruang refleksi yang terus berulang.

    Kisah ini bukan hanya tentang duka personal, tetapi juga tentang ketangguhan keluarga Indonesia dalam menghadapi tragedi. Banyak anak tumbuh dari kehilangan, dari keterbatasan, dan dari ketidaksempurnaan, lalu menjadikannya energi untuk bertahan dan bangkit.

    Kehilangan figur ayah tidak selalu melahirkan kelemahan. Justru dalam banyak kasus, ia menempa karakter, melatih kepekaan, dan menumbuhkan empati yang mendalam. Rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar hilang, tetapi berubah menjadi kekuatan sunyi yang mengiringi langkah hidup.

    23 Januari 1980 bukan hanya hari duka, melainkan hari pembelajaran. Bahwa hidup tidak menjanjikan kepastian, bahwa keluarga adalah sandaran utama, dan bahwa dari kehilangan yang paling dalam sekalipun, manusia dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih manusiawi. 

    Komentar

    Tampilkan