-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Perubahan Paradigma Pertahanan

    Bhumi Literasi
    Tuesday, January 13, 2026, January 13, 2026 WIB Last Updated 2026-01-14T00:34:58Z

     Penulis: Yuda Ari Setiawan D. P., S. T. Han., M.H.I. (Bidang Humas dan Kerjasama DPP)


     

    Kaku, membosankan, dan terkesan militeristik. Itu adalah beberapa kata yang ada di benak kita saat kita akan mempelajari pertahanan negara untuk pertama kalinya. Pemikiran semacam itu tidak sepenuhnya benar karena di era modern saat ini mengkaji pertahanan dan keamanan negara tidak hanya sekedar mengkaji kekuatan militer dari negara tersebut. Jumlah tank, pesawat dan pasukan reguler adalah cara “kuno” untuk mengukur kekuatan pertahanan suatu negara. Di era modern kekuatan ekonomi, diplomasi dan berbagai aspek lainnya juga berperan besar dalam pertahanan dan keamanan suatu negara. Konsep perang hibrida dan perang modern yang dicetuskan oleh beberapa ahli saat ini merupakan salah satu gebrakan yang menuntut keterlibatan seluruh warga negara dan komponen suatu negara dalam pertahanan dan keamanan negara.

     

    Sejarah membuktikan beberapa peristiwa hancurnya pemerintahan yang sah selain dikarenakan invasi militer juga disebabkan oleh kehancuran politik dan ekonomi suatu negara. Contohnya peristiwa yang pernah terjadi adalah runtuhnya Irak di era Presiden Saddam Husein. Sebelum diserang secara militer oleh pasukan koalisi pimpinan AS, Irak sebenarnya pernah diserang melalui ekonomi oleh AS dan sekutunya dengan memberikan sanksi ekonomi kepada Irak. Akibat tidak adanya sekutu atau negara kuat yang membantu Irak serta lemahnya kekuatan diplomasi Irak jika dibandingkan AS dan sekutunya, negara Irak menjadi hancur dan porak poranda akibat invasi AS dan sekutunya pada tahun 2003.

     

    Akan tetapi lain halnya yang terjadi terhadap Rusia dan Cina. Rusia merupakan negara kuat yang menjadi musuh AS sejak era perang dingin. Rusia pernah mengalami kehancuran politik dan ekonomi setelah runtuhnya Uni Soviet. Bahkan kekuatan militernya juga bisa dibilang berkurang akibat embargo ekonomi serta kekacauan politik dalam negeri Rusia. Akan tetapi dengan adanya pemerintahan yang kuat di era Presiden Vladimir Putin dan ketersediaan SDA dan SDM yang melimpah, Rusia kembali bangkit sebagai salah satu negara kuat di dunia. Hal yang sama juga dialami oleh Cina. Setelah Cina sempat terpuruk akibat berbagai kebijakan tangan besi di era Mao Zedong, Cina dapat bangkit dan menjadi raksasa ekonomi dan militer dunia seperti sekarang. Kebangkitan Cina saat ini selain dikarenakan melimpahnya SDA dan SDM juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya diplomasi serta politik dalam negeri yang cenderung kuat.

     

    Faktor ekonomi merupakan salah satu faktor yang sama pentingnya bagi pertahanan dan keamanan negara. Karena dengan adanya ekonomi yang kuat selain bisa menghidupi warga negaranya, ekonomi juga menjadi kunci utama dalam belanja militer suatu negara. Selain akibat embargo negara lain, faktor lain seperti keamanan dalam negeri, bencana dan kualitas SDM menjadi penyebab runtuhnya ekonomi suatu negara. Contohnya adalah ketika di masa pandemi virus Covid-19 beberapa negara mengalami kemunduran di sektor ekonomi akibat menurunnya produksi maupun pendapatan dari sektor pariwisata. Contoh lainnya adalah demonstrasi besar-besaran di Iran yang menjadi salah satu penyebab inflasi tinggi di negara tersebut.

     

    Dari beberapa peristiwa tersebut, sebagai warga negara Indonesia kita juga harus lebih berpikiran terbuka terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dunia karena sudah pasti juga akan berimbas terhadap pertahanan dan keamanan Indonesia secara signifikan. Banyak sekali yang harus kita benahi salah satunya yang terpenting adalah kualitas SDM kita. Sudah banyak sumber berita yang menunjukkan bahwa kualitas pendidikan dan SDM Indonesia masih tertinggal. Banyak sekali faktor yang menjadi penyebab  kualitas SDM Indonesia masih tertinggal seperti sistem pendidikan, serta fasilitas yang belum memadai apalagi di daerah terpencil. Akan tetapi yang menjadi faktor kunci adalah rendahnya minat baca atau literasi warga negara kita. Kemajuan teknologi seperti media sosial menjadi hal yang harus kita kaji bersama. Dengan adanya teknologi informasi yang berkembang pesat seharusnya menjadikan kita mampu mencari akses konten positif seperti buku gratis serta tutorial berbagai macam skill atau keahlian yang dapat memberikan manfaat bagi perkembangan pikiran dan wawasan kita. 

     

     Akan tetapi kenyataannya kemajuan arus informasi malah memberikan efek negatif bagi banyak generasi muda. Hal ini disebabkan mereka cenderung menyukai konten receh serta berbau provokasi dibandingkan dengan konten positif seperti metode belajar dan  hal positif lainnya. Sehingga wajar jika kini masyarakat kita cenderung mudah terprovokasi jika muncul berita atau konten yang cenderung menjelekkan kebijakan pemerintah.

     

    Dari kenyataan tersebut sudah sewajarnya kita sebagai warga negara Indonesia harus mulai merubah kebiasaan yang ada. Dimulai dari diri sendiri, dengan membiasakan diri menambah wawasan dan literasi akan menjadikan kita sebagai pribadi yang dapat menyaring berita serta memiliki kualitas baik secara pemikiran dan nalar. Hal ini sangat penting karena wawasan dan pola pikir merupakan hal yang akan kita wariskan kepada anak cucu maupun keluarga kita. 

     

    Kita,secara pribadi menjadi kunci dari kuatnya pertahanan negara. Kepercayaan terhadap tokoh agama atau politik dan kepercayaan tertentu akan menjadi batu sandungan bagi negara kita untuk maju dan berbenah. Pola pikir instan dalam mendatangkan uang di era modern juga menjadikan kita sebagai sasaran empuk penipuan dan kejahatan siber yang sangat marak saat ini. Untuk itu, di sekolah, tempat kerja, di warung kopi sekalipun kita harus mulai membiasakan diri untuk sejenak mencari informasi terutama dalam hal yang terjadi di dunia serta imbas apa yang sekiranya akan kita dapatkan akibat berbagai macam peristiwa internasional dan nasional saat ini. 

     

    Contohnya adalah di era yang sudah mulai dikuasai oleh kecerdasan buatan atau AI, kita harus mulai sadar tentang bahaya apa yang timbul serta kesempatan lapangan kerja dan pendidikan seperti apa yang dapat kita ambil untuk dapat bertahan hidup dari perkembangan zaman. Sehingga dengan adanya SDM yang berkualitas maka stabilitas keamanan dan pertahanan negara kita dapat kuat dari serangan pihak luar yang saat ini cenderung menyerang kualitas SDM kita terutama melalui tayangan yang tidak bermutu, mustahil atau halu serta provokatif di media sosial. Ingatlah, saat ini pertahanan negara tidak hanya dipertahankan oleh orang yang berstatus sebagai PNS, tentara atau aparat lainnya. Akan tetapi pertahanan negara saat ini ada dan bergantung kepada kita semua sebagai warga negara.    

    Komentar

    Tampilkan