Sebetulnya saya tidak ingin merespon berita viral ini, tetapi sebagai pendidik, hati dan jiwa saya terusik.
Keterusikan ini lahir dari hasil perenungan atas makna prinsip jati diri warga negara (Eling lan Bekti) dan cinta tanah air (Memayu Hayuning Bawana). Inilah wujud etika dan nasionalisme sebagai anak bangsa.
Berapa banyak pejuang beasiswa LPDP yang rela terpontang panting dengan segalah keterbatasannya demi berharap menerima beasiswa ini, tetapi karena seleksi yang begitu baik dan ketat, maka pejuang-pejuang itu terseleksi dengan baik, dan pejuang yang terbaiklah yang lolos dan berhak mendapatkannya.
Harapan terbesar kelolosan mereka adalah harapan masa depan kemajuan bangsa ini. Tetapi harapan-harapan itu nyatanya sangat berbeda dengan prilaku penerimanya.
Tidak etis jika menjeneral perilaku satu orang untuk menjurus kesemua penerima LPDP, tetapi ini merupakan tampilan wajah moral anak bangsa yang sepenuhnya tidak memiliki nilai juang yang paripurna dan patriotisme yg kokoh.
Ini bukan kekeliruan LPDP melainkan ada nilai yang tidak terserap dalam proses seleksi LPDP ini, apa itu? Itu adalah nilai moral cinta tanah air dan etika berbangsa dan bernegara.
Inilah nasionalisme yang perlu diterapkan oleh LPDP secara menyeluruh, dan bukan sekedar seremonial saja melainkan didikan inilah yg menjadi poin mendasar sebagai warga negara. Seburuk apapun negeri ini dan sejelek apapun pengelolaanya, semestinya kitalah sebagai warga negara yang terus membenahinya dengan adab dan intelektual yang jernih serta prestasi-prestasi yang membanggakan.
LPDP perlu mengevaluasi poin-poin mendasar ini sehingga betul-betul dapat mencetak generasi yang mencintai negeri ini dengan tulus tanpa pamrih, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini.
Ironi ini menjadikan pembelajaran yang sangat berharga bagi kita, sebab mencaci negeri ini lebih mudah ketimbang mencintainya dengan tulus.
Perpindahan dari WNI ke WNA itu adalah pilihan hak asasi yang disahkan secara hukum, namun pada konteks berita yang baru-baru viral ini adalah suatu tampilan kemirisan sebab menyandang status sebagai alumi tentu ada konsekuensi hukum yang perlu dijaga etikanya.
Secara garis besar, luaran anak-anak penerima beasiswa LPDP diharapkan mampu mengabdi dan berkontribusi pada kemajuan bangsa, bukan sebaliknya pergi dan menghianati amanah yg telah diberikan.
Penulis : Muh. Husriadi (Ketua DPW Sultra)
Editor: Bid. Media dan Publikasi


