-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Emosi Tak Terkendali, Ibu-Ibu Labrak Pedagang dan Lakukan Kekerasan

    Bhumi Literasi
    Sunday, February 1, 2026, February 01, 2026 WIB Last Updated 2026-02-02T05:39:47Z

     


    Insiden keributan yang dipicu oleh persoalan penggunaan payung saat hujan seharusnya tidak pernah berujung pada kekerasan. Masalah yang tergolong sepele ini justru berkembang menjadi konflik terbuka di ruang publik, memperlihatkan bagaimana emosi yang tidak terkelola dapat mengalahkan akal sehat. Peristiwa tersebut menjadi cermin tentang rapuhnya budaya dialog dalam menyelesaikan perbedaan kecil di tengah masyarakat.

    Awalnya, perselisihan hanya terjadi antara korban dan keponakan pelaku. Namun situasi berubah drastis ketika seorang ibu datang dengan kondisi emosi yang sudah memuncak. Kehadiran pelaku bukan untuk menengahi, melainkan melabrak lapak jualan korban dan menciptakan kegaduhan. Di titik ini, konflik tidak lagi soal payung, melainkan soal cara seseorang memposisikan diri saat menghadapi masalah.

    Tindakan membalikkan meja jualan merupakan bentuk anarkisme yang tidak bisa dibenarkan. Lapak dagangan bukan sekedar tempat berjualan, melainkan sumber penghidupan seseorang. Ketika meja dibalik dan barang dagangan diacak-acak, yang dirusak bukan hanya benda fisik, tetapi juga martabat dan rasa aman korban sebagai warga negara.

    Lebih memprihatinkan lagi, konflik tersebut berlanjut pada kekerasan fisik. Tarikan paksa pada tangan korban hingga tendangan yang mengakibatkan luka lecet menunjukkan eskalasi emosi yang berbahaya. Kekerasan semacam ini, jika dibiarkan atau dianggap wajar, dapat menjadi preseden buruk dalam kehidupan bermasyarakat.

    Korban mengaku telah berusaha menjelaskan permasalahan secara baik-baik. Sayangnya, niat tersebut tidak mendapat ruang untuk didengar. Ketika komunikasi ditutup oleh emosi, maka kebenaran dan keadilan kehilangan tempatnya. Inilah titik di mana konflik berubah menjadi penindasan, karena satu pihak memilih kekuatan daripada nalar.

    Peristiwa ini juga memperlihatkan krisis etika dalam bertutur kata. Hinaan kasar yang dilontarkan pelaku menambah luka psikologis korban. Padahal, bahasa mencerminkan karakter. Cara berbicara yang penuh amarah hanya akan melahirkan konflik baru, bukan penyelesaian yang bermartabat.

    Ruang publik sejatinya adalah ruang bersama yang harus dijaga kenyamanan dan keamanannya. Setiap orang, termasuk pedagang kecil, berhak merasa aman dari intimidasi dan kekerasan. Jika ruang publik dikuasai oleh sikap arogan dan emosi tak terkendali, maka rasa saling percaya dalam masyarakat akan terkikis.

    Kasus seperti ini semestinya menjadi perhatian serius, bukan sekedar tontonan atau sensasi sesaat. Penyelesaian konflik secara hukum dan sosial perlu dilakukan secara adil agar tidak menimbulkan trauma berkepanjangan bagi korban. Namun lebih dari itu, pencegahan melalui edukasi etika sosial dan pengelolaan emosi jauh lebih penting.

    Masyarakat perlu kembali menghidupkan nilai musyawarah dan kekeluargaan dalam menyelesaikan masalah. Perbedaan kepentingan adalah hal wajar, tetapi kekerasan bukanlah pilihan. Menahan emosi dan membuka ruang dialog justru menunjukkan kedewasaan, bukan kelemahan.

    Insiden ini mengingatkan kita bahwa persoalan kecil dapat menjadi bencana sosial ketika dihadapi dengan amarah. Menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan menghormati sesama adalah fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa itu, hujan bukan hanya membasahi jalanan, tetapi juga membuka pintu konflik yang seharusnya bisa dihindari.

    Komentar

    Tampilkan