Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Pengawas Bhumi Literasi Anak Bangsa menyampaikan pesan penuh makna kepada seluruh pengurus serta masyarakat Indonesia. Melalui pernyataan resminya, pengawas komunitas tersebut mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat spiritualitas sekaligus meningkatkan kualitas intelektual melalui budaya membaca.
Pengawas Bhumi Literasi Anak Bangsa, Ir. Dwi Shinta Dharmopadni, menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 H kepada seluruh umat Muslim di Indonesia. Ia berharap bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan semangat baru dalam membangun kebiasaan positif di tengah masyarakat.
Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya waktu untuk meningkatkan ibadah ritual semata, tetapi juga kesempatan untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Menurutnya, membaca merupakan bagian penting dari ibadah intelektual yang mampu memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Ia juga mengajak seluruh pengurus Bhumi Literasi Anak Bangsa di berbagai daerah untuk aktif menyelenggarakan kegiatan literasi selama bulan Ramadhan. Program seperti songsong ramadhan dan Ngobrol Bareng Spesial Ramadhan dinilai mampu memperkuat semangat belajar masyarakat.
Selain itu, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan waktu luang selama Ramadhan untuk membaca buku-buku bermanfaat, baik buku keagamaan, pendidikan, maupun pengembangan diri. Kebiasaan sederhana tersebut diyakini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kemajuan bangsa.
Dalam arahannya kepada jajaran pengurus pusat, ia menekankan pentingnya menjaga nama baik Bhumi Literasi di mana pun berada. Integritas, etika, dan sikap profesional harus selalu dijunjung tinggi sebagai representasi nilai-nilai organisasi literasi yang membawa misi pendidikan bagi masyarakat.
Ia menambahkan bahwa setiap pengurus merupakan duta literasi yang membawa citra organisasi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, perilaku, komunikasi, dan kegiatan yang dilakukan harus mencerminkan semangat pengabdian dan komitmen terhadap peningkatan budaya baca nasional.
Menurutnya, tantangan literasi di era digital semakin kompleks, sehingga diperlukan konsistensi gerakan membaca yang berkelanjutan. Ramadhan menjadi waktu strategis untuk memulai kebiasaan membaca yang kemudian dilanjutkan secara rutin setelah bulan suci berakhir.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup keluarga. Dengan membiasakan membaca sejak dini di lingkungan rumah, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi generasi pembelajar yang berkarakter dan berwawasan luas.
Menutup pesannya, ia berharap Ramadhan 1447 H dapat menjadi titik awal penguatan ibadah sekaligus kebangkitan budaya literasi di Indonesia, sehingga masyarakat tidak hanya semakin religius, tetapi juga semakin cerdas dan berpengetahuan.

