Semangat literasi kembali ditunjukkan oleh keluarga besar Bhumi Literasi Anak Bangsa. Salah satu pengurusnya, Kapten Cpm Prasetyo Budhi Setiawan, berhasil membuktikan bahwa profesi lapangan bukan penghalang untuk berkarya. Perwira yang saat ini menjabat sebagai Komandan Subdenpom XVIII/1-2 Fakfak tersebut sukses menulis dan menerbitkan buku berjudul Mozaik Budaya Fakfak.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa siapa pun bisa menulis buku, termasuk seorang komandan lapangan yang sehari-hari disibukkan dengan tugas operasional. Kapten Pras, sapaan akrabnya, menunjukkan bahwa menulis bukan hanya milik akademisi atau penulis profesional, tetapi juga milik prajurit yang memiliki kepedulian terhadap budaya dan masyarakat.
Buku Mozaik Budaya Fakfak ditulis oleh Prasetyo Budhi Setiawan bersama Rizal Mutaqin, dengan editor Dwi Shinta Dharmopadni. Buku ini telah resmi terbit pada tahun 2026 dengan ISBN 978-634-7658-08-1 dan menjadi salah satu karya literasi budaya yang diharapkan memperkaya referensi tentang Papua, khususnya wilayah Fakfak.
Dalam buku tersebut, pembaca diajak menelusuri kekayaan budaya, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Fakfak yang dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai peradaban. Fakfak tidak hanya digambarkan sebagai wilayah geografis, tetapi sebagai lanskap budaya yang sarat makna dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Disusun dalam sepuluh bab, buku ini menyajikan potret menyeluruh tentang Fakfak mulai dari sejarah, asal-usul masyarakat, struktur sosial, adat istiadat, bahasa, seni, hingga pola hidup maritim yang membentuk karakter masyarakatnya. Nilai filosofis “Satu Tungku Tiga Batu” menjadi benang merah yang menggambarkan semangat persaudaraan dan toleransi antarumat beragama di wilayah tersebut.
Melalui pendekatan naratif dan reflektif, Mozaik Budaya Fakfak tidak hanya menjadi dokumentasi budaya, tetapi juga ruang dialog antara tradisi dan modernitas. Buku ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi budaya lokal di era globalisasi serta pentingnya peran generasi muda dalam menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan.
Keberhasilan Kapten Prasetyo menulis buku ini juga menjadi bukti nyata dari gagasan yang selama ini digaungkan oleh Bhumi Literasi Anak Bangsa, yakni bahwa semua orang bisa menulis buku. Gagasan tersebut bahkan telah lebih dulu dituangkan dalam buku Semua Orang Bisa Menulis Buku yang ditulis oleh Rizal Mutaqin.
Buku Semua Orang Bisa Menulis Buku hadir sebagai panduan bagi siapa saja yang ingin menulis tetapi masih merasa ragu atau takut memulai. Buku ini menegaskan bahwa menulis bukan sekedar kemampuan teknis, tetapi perjalanan untuk mengenal diri, menyembuhkan luka, dan berbagi manfaat melalui tulisan.
Kisah Kapten Prasetyo menjadi contoh konkret dari pesan tersebut. Sebagai seorang komandan lapangan, ia tetap mampu menyelesaikan naskah dan menerbitkan buku yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa orang lapangan pun bisa menulis dan berkontribusi dalam dunia literasi.
Dengan hadirnya Mozaik Budaya Fakfak, Bhumi Literasi Anak Bangsa berharap semakin banyak prajurit, guru, mahasiswa, dan masyarakat umum yang berani menulis buku. Literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi juga tentang meninggalkan jejak pemikiran dan warisan pengetahuan bagi generasi mendatang.


