Rumah tangga ibarat kapal, ada kapten kapal dan ada navigator.
Kapten kapal berperan menentukan arah dan tujuan. Sedangkan navigator memberikan masukan jalur yang tepat dilalui, agar kapal dapat sampai dengan selamat.
Kapten dan navigator tidak ada yg boleh merasa lebih tinggi dan lebih baik, karena semua punya peran masing-masing, jika salah satu tidak berkontribusi maka bersiaplah untuk tenggelam.
Suami dan istri boleh berkarir setinggi-tingginya diluar sana. Mau jadi tentara, spv ataupun dosen. Tapi di rumah semua itu harus ditinggalkan.
Rumah tangga bukan berbicara siapa yg paling kuat dan paling berani, tetapi berbicara tentang kerjasama dan saling memahami.
Di kehidupan rumah tangga, kegiatan seperti cuci piring, cuci baju, setrika, memandikan anak, memakaikan baju anak, antar jemput anak sekolah, menemani belajar anak dan apapun tentang anak, kita harus bekerjasama dan kompak.
Seorang filsuf menyampaikan bahwa rumah berbicara tentang naungan sedangkan tangga berbicara tentang mencapai sesuatu yang tinggi, jadi rumah tangga adalah naungan yang akan membuat kita tinggi.
Tinggi bagi saya mengingatkan isi ceramah ustadz di masjid-masjid kampung, bahwa ibadah yang paling lama adalah ibadah berumah tangga. Tujuannya tidak lain adalah tempat yang paling tinggi, surganya Sang Maha Pencipta.
Penulis: Rizqi Munandhar, S.Si., M.Si. (Ketua DPW NTB)


