Ketika Selat Hormuz kembali memanas akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, Indonesia sebenarnya sedang menghadapi ancaman yang tidak terlihat langsung, tetapi dampaknya sangat nyata: kenaikan harga BBM. Berita Kumparan pada 3 Maret 2026 menegaskan bahwa jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga BBM di Indonesia berpotensi naik hingga 25 persen. Ini bukan sekedar spekulasi, tetapi peringatan serius tentang betapa rentannya sistem energi nasional terhadap gejolak global.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menjelaskan bahwa ada beberapa skenario yang mungkin terjadi. Salah satunya adalah kemungkinan Israel menghancurkan infrastruktur energi Iran yang kemudian dibalas dengan serangan melalui Hizbullah atau Houthi. Jika konflik itu meluas, maka gangguan rantai pasok minyak tidak bisa dihindari. Dalam kondisi seperti itu, Selat Hormuz menjadi titik paling krusial karena jalur ini adalah salah satu jalur distribusi energi terbesar di dunia.
Yang paling mengkhawatirkan adalah perbandingan antara dua skenario: Selat Hormuz tetap terbuka dan Selat Hormuz benar-benar ditutup. Jika tetap terbuka, harga minyak masih berpotensi naik 10–25 persen. Namun jika ditutup, dampaknya jauh lebih besar karena harga minyak bisa melonjak lebih dari 25 persen dalam waktu singkat. Artinya, Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor minyak akan langsung merasakan tekanan.
Indonesia tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa sebagian besar kebutuhan minyak masih bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Dalam berita tersebut disebutkan bahwa sekitar 90 persen impor minyak Indonesia berasal dari wilayah itu. Ketergantungan ini membuat harga BBM di dalam negeri sangat mudah terdorong oleh situasi global, bukan oleh kondisi dalam negeri. Inilah titik lemah yang selama ini sering diabaikan.
Kondisi menjadi semakin serius karena dampak kenaikan harga minyak tidak hanya terasa pada BBM, tetapi juga pada biaya transportasi dan harga barang. Ketika harga BBM naik, maka ongkos distribusi otomatis meningkat. Pada akhirnya, yang menanggung beban bukan hanya pemerintah atau perusahaan energi, tetapi masyarakat luas. Kenaikan harga BBM hampir selalu berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
Namun di sisi lain, pemerintah kemungkinan akan mencoba menahan kenaikan harga, terutama untuk BBM subsidi. Pengamat energi dalam berita tersebut bahkan memperkirakan Pertamina akan berusaha membatasi kenaikan agar tidak terlalu tinggi. Tetapi menahan harga bukan berarti masalah selesai. Jika harga minyak dunia terus naik, maka beban subsidi juga akan semakin berat dan berpotensi mengganggu anggaran negara.
Situasi ini sebenarnya menjadi alarm keras bagi Indonesia bahwa ketahanan energi bukan lagi sekedar isu teknis, melainkan isu strategis nasional. Selama Indonesia masih bergantung pada impor minyak, maka setiap konflik di Timur Tengah akan selalu berpotensi memukul ekonomi nasional. Artinya, masalah ini bukan hanya soal harga BBM, tetapi soal kemandirian energi.
Krisis seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan energi alternatif seharusnya tidak lagi berjalan lambat. Ketika dunia mulai beralih ke energi baru dan terbarukan, Indonesia justru masih sangat bergantung pada minyak impor. Jika ketergantungan ini tidak segera dikurangi, maka kejadian seperti Selat Hormuz akan terus menjadi ancaman berulang.
Yang paling berbahaya dari situasi ini adalah dampak psikologisnya terhadap masyarakat. Begitu isu Selat Hormuz ditutup muncul, masyarakat langsung khawatir akan kenaikan harga BBM. Artinya, stabilitas energi Indonesia masih sangat rapuh di mata publik. Selama kepercayaan terhadap ketahanan energi nasional belum kuat, maka setiap konflik global akan selalu menimbulkan kepanikan.
Ketika Selat Hormuz bergejolak, yang sebenarnya sedang diuji bukan hanya harga minyak dunia, tetapi juga kesiapan Indonesia menghadapi krisis energi. Jika harga BBM benar-benar naik hingga 25 persen seperti yang diperkirakan, maka ini harus menjadi momentum untuk mempercepat kemandirian energi nasional. Tanpa langkah besar dan berani, Indonesia akan terus berada dalam posisi rentan setiap kali konflik global terjadi.
Penulis: Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi. (Pgs. Sekretaris Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)
Editor: Bidang Media dan Publikasi Bhumi Literasi Anak Bangsa


