Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada April 2026 merupakan peristiwa geopolitik yang memicu guncangan hebat pada rantai pasok energi global. Mengingat Selat Hormuz adalah jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak bumi dan gas alam cair dunia. Dampaknya akan merembet ke segala sektor, termasuk perguruan tinggi di Indonesia.
Perguruan tinggi tidak bisa sekadar sebagai menara gading, melainkan harus berperan sebagai mesin mitigasi dan inovasi di tengah krisis. Berikut ini adalah beberapa opini mengenai peran strategis perguruan tinggi dalam merespons situasi ini.
Pertama, perguruan tinggi dapat berperan sebagai pusat mitigasi operasional atau adaptasi efisiensi. Kenaikan BBM global akan berdampak pada biaya operasional kampus dan mobilitas mahasiswa. Kampus dapat berperan sebagai pionir kebijakan adaptif, seperti penerapan kembali Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau hybrid learning guna mengurangi konsumsi BBM nasional secara signifikan. Kampus juga dapat mendorong ekosistem paperless dan layanan adminitrasi digital untuk menekan biaya logistik yang melonjak akibat kenaikan harga.
Kedua, perguruan tinggi dapat mengambil peran sebagai Think-Tank kebijakan dan kedaulatan energi. Kampus harus menjadi mitra krisis pemerintah dalam merumuskan ulang strategi energi nasional agar tidak bergantung pada impor fosil. Pakar dari perguruan tinggi dapat bertugas memberikan proyeksi dampak ekonomi terhadap APBN dan menyarankan diverifikasi sumber energi. Misalnya, kampus dapat menyarankan kepada pemerintah untuk mencari sumber alternatif dari non-timur tengah seperti Rusia. Perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak transisi energi yang lebih radikal. Krisis Hormuz membuktikan bahwa ketahanan energi berbahan fosil sangan rentan. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mempercepat riset mengenai energi baru terbarukan yang berbasis potensi lokal.
Ketiga, perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam inovasi teknologi dan substitusi impor. Dengan ketergantungan komoditas lain seperti aluminium dan bahan baku pupuk (amonia) yang juga melewati Selat Hormuz, kampus harus mengambil peran strategis ini untuk meningkatkan riset terapan. Kampus harus menciptakan teknologi mesin atau kendaraan yang lebih hemat energi atau berbasis listrik untuk mendukung kebijakan konversi pemerintah. Kampus juga harus menerapkan kemendirian pangan. Karena mengingat krisis Hormuz ini berdampak pada rantai pasok pangan, fakultas pertanian perlu meningkatkan inovasi dalam pembuatan pupuk organik atau mengembangkan metode tanam yang tidak bergantung pada input impor kimia yang mahal.
Keempat, perguruan tinggi harus mengambil peran dalam literasi dan stabilitas sosial. Di tengah ancaman stagflasi dan kenaikan BBM yang mengakibatkan harga barang pokok naik, perguruan tinggi memiliki peran dan tanggung jawab moral sebagai akademisi yang menjungjung tinggi pengabdian. Kampus perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyebab krisis agar tidak terjadi kepanikan massal. Selain itu, mahasiswa dan dosen dapat membimbing UMKM untuk bertahan melalui inovasi produk yang lebih hemat biaya energi.
Penutupan Selat Hormuz pada tahun 2026 ini perlu dipandang oleh perguruan tinggi, bukan sebagai hambatan operasional, melainkan sebagai momentum transformasi. Peran perguruan tinggi bergeser dari sekadar penyedia sarjana atau penyedia tenaga kerja menjadi benteng pertahanan intelektual yang memastikan negara memiliki kemandirian energi dan pangan di masa depan. Jika kampus gagal beradaptasi, mereka akan ikut terseret dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan.


