Bicara tentang literasi, yang ada di pikiran kita pasti kebanyakan tentang membaca dan menulis. Padahal kalau kita lebih jauh lagi, literasi sebenarnya merupakan kemampuan untuk berpikir kritis. Bagaimana kita bisa berpikir kritis? Pondasinya adalah membaca. Membaca merupakan awal dari seluruh kegiatan yang disebut “literasi”.
Literasi sendiri sebenarnya tidak hanya membaca dan menulis, tapi tidak akan ada kegiatan literasi tanpa melalui proses membaca dan menulis. Sebagai contoh, bagaimana kita bisa berpikir kritis jika kita jarang membaca? Tidak ada pengetahuan yang masuk tanpa proses membaca dan membaca.
Membaca sendiri tidak bisa diartikan sempit hanya membaca tulisan. Membaca harus dipahami secara luas. Seperti membaca keadaan, situasi, dan kondisi. Orang-orang yang memiliki tingkat literasi tinggi, tidak akan kesulitan untuk membaca situasi, sehingga akan lebih tepat dan bijak dalam mengambil keputusan. Karena dalam hidup ini, yang terpenting bukan apa yang terjadi pada kita, tapi bagaimana sikap kita dalam menghadapi situasi tersebut.
Berangkat dari pemahaman tersebut, maka literasi seharusnya ditempatkan sebagai fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Literasi bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan reflektif yang membentuk cara pandang seseorang terhadap dunia. Tanpa literasi yang kuat, seseorang akan mudah terjebak pada pemikiran dangkal dan reaktif.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan membaca situasi menjadi sangat penting. Tidak semua persoalan membutuhkan jawaban cepat, tetapi hampir semua persoalan membutuhkan pemahaman yang tepat. Di sinilah literasi berperan sebagai alat untuk menimbang, menganalisis, dan memahami berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan.
Literasi juga berkaitan erat dengan kemampuan menyaring informasi. Di era digital saat ini, arus informasi begitu deras dan tidak semuanya dapat dipercaya. Orang yang memiliki literasi yang baik tidak akan mudah terprovokasi atau terjebat dalam informasi yang menyesatkan. Ia akan cenderung memverifikasi, membandingkan, dan mencari sumber yang kredibel.
Kemampuan berpikir kritis yang lahir dari literasi juga akan membentuk karakter yang lebih matang. Seseorang tidak hanya menerima informasi secara mentah, tetapi mampu mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermakna. Hal ini akan berdampak pada cara seseorang bersikap, berbicara, dan bertindak dalam kehidupan sosial.
Di sisi lain, rendahnya tingkat literasi seringkali berbanding lurus dengan rendahnya kualitas pengambilan keputusan. Ketika seseorang jarang membaca, maka referensi berpikirnya menjadi terbatas. Akibatnya, keputusan yang diambil cenderung didasarkan pada emosi sesaat, bukan pada pertimbangan yang rasional dan matang.
Literasi juga berperan dalam membantun empati. Dengan membaca, seseorang dapat memahami perspektif orang lain, bahkan dari latar belakang yang berbeda. Hal ini akan memperkaya sudut pandang dan mengurangi sikap egois dalam melihat suatu permasalahan.
Selain itu, literasi tidak hanya menjadi tanggungjawab individu, tetapi juga menjadi tanggungjawab kolektif. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran dalam menumbuhkan budaya literasi. Tanpa dukungan lingkungan, upaya meningkatkan literasi akan berjalan lambat dan tidak optimal.
Penting untuk disadari bahwa membangun literasi bukanlah proses instant. Dibuthkan konsistensi, kebiasaan, dan kemauan untuk terus belajar. Membaca harus menjadi bagian dari gaya hidup, bukan sekedar aktivitas sesaat ketika dibutuhkan.
Lebih dari itu, literasi juga harus diarahkan pada kemampuan untuk memahami realitas secara utuh. Tidak hanya memahami apa yang tampak di permukaan, tetapi juga mampu melihat makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Inilah yang akan membedakan antara orang yang sekedar tau dan orang yang benar-benar paham.
Literasi adalah tentang bagaimana seseorang mempu bersikap dalam kehidupan. Bukan hanya tentang apa yang ia ketahui, tetapi bagaimana ia menggunakan pengetahuan tersebut untuk menghadapi berbagai situasi. Dengan literasi yang baik, seseorang tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam menghadapi kehidupan.
Penulis: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketua Umum)

