-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Singapura dan Indonesia Ditengah Selat Hormuz

    Bhumi Literasi
    Wednesday, April 8, 2026, April 08, 2026 WIB Last Updated 2026-04-08T08:01:43Z

     


    Berdasarkan beberapa sumber dari para pengamat, ekonomi Singapura di prediksi minus ditengah konflik selat Hormuz antara Amerika - Israel dan Iran. Singapura merupakan negara yang hampir 100% kebutuhan energinya berasal dari impor minyak mentah (crude oil) dari timur tengah. Kenapa 100% import? Karena Singapura adalah negara yang tidak mempunyai sumber daya alam. Singapura import minyak mentah (crude oil) dari timur tengah kemudian mereka olah di kilang-kilang minyak milik mereka menjadi produk bahan bakar minyak (BBM), kemudian menjualnya ke berbagai negara.

    Ditengah ketegangan Selat Hormuz, harga crude oil sudah hampir mencapai harga 100 dolar/barel, bahkan lebih. Maka dari itu, Singapura harus memutar otak dalam menjalankan roda perekonomiannya. Akibat ketegangan tersebut, kilang minyak Singapura mendapatkan bahan baku mentah yang lebih mahal dari harga normal, sehingga akan membebani biaya (cost) operasional kilang minyak mereka. Ditambah lagi mereka harus memikirkan harga jual mereka untuk dapat terus menjual produknya di pasaran. Jika tidak menaikan, maka mereka akan rugi. Sehingga  daya saing produk mereka akan kalah di pasaran.

    Untuk memenuhi kebutuhan nasionalnya, Singapura harus menaikkan harga bbm di negaranya. Kenaikan harga bbm akan sangat berdampak bagi masyarakat Singapura, baik itu kebutuhan hidup, pendidikan, bahkan akan terjadi PHK massal bagi tenaga kerjanya.

    Singapura ibarat penjual nasi goreng merah yang mempunyai gerobak nasi goreng tetapi tidak mempunyai bahan baku seperti beras, telur dan minyak goreng. Sehingga ketika bahan baku sedang mahal, maka gerobak nasi goreng merah mereka akan terancam tutup. Begitulah nasib suatu negara jika tidak mempunyai Sumber daya alam sendiri.

    Selanjutnya timbul pertanyaan, bagaimana ekonomi Indonesia ditengah konflik hormuz? Indonesia diprediksi masih positif di tengah konflik tersebut. Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam melimpah, Indonesia kaya akan minyak dan gas bumi. Indonesia merupakan salah satu negara dengan penghasilan batu bara dan minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

    Kabar baiknya, ditengah selat Hormuz yang sedang membara, batu bara dan kelapa sawit dunia mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, karena merupakan bahan bakar alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, dan Indonesia harus mengambil kesempatan dalam kesempitan ini. Pasar global pun terbuka lebar untuk Indonesia, dan tentunya akan berdampak luas bagi perekonomian Indonesia.

    Kedepannya, Indonesia harus dapat membangun  infrastruktur kilang minyaknya sehingga crude oil atau bahan baku yang bersumber dari alam kita sendiri mampu diolah dan diperuntukkan untuk kebutuhan energi nasional kita. Itulah perbedaan kondisi negara dengan sumber daya alam minim dan melimpah.
    Sedikit saja chaos terjadi seperti yang menimpa selat Hormuz saat ini, yang merupakan jalur vital perdagangan global, negara seperti Singapura akan merasakan efek yang sangat besar bagi perekonomiannya.


    Penulis: Rizqi Munandhar, S.Si., M.Si. (Ketua DPW Nusa Tenggara Barat)

    Komentar

    Tampilkan