-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    LPDP, GenZ Brain, dan Ilusi “Pulang ke Indonesia”

    Bhumi Literasi
    Sunday, May 10, 2026, May 10, 2026 WIB Last Updated 2026-05-11T01:16:52Z

     



    LPDP sering diposisikan sebagai jalan tol menuju masa depan: negara biayai, anak muda kuliah di luar negeri, lalu pulang membangun Indonesia. Masalahnya, dunia sekarang tidak sesederhana itu.

    Kita masih pakai logika lama: pergi, belajar, pulang, beres. Padahal realitasnya sudah naik level. Yang terjadi hari ini bukan cuma brain drain—orang pintar kabur dan nggak balik. Tapi juga brain circulation—mereka pulang, tapi tetap “hidup” di ekosistem global.

    Sekilas ini bagus. Bahkan terdengar keren. Tapi di sinilah ironi mulai terasa. Karena ternyata, pulang secara fisik tidak otomatis berarti “kembali” secara cara berpikir. Banyak alumni luar negeri tetap terhubung dengan:

    • media global
    • standar internasional
    • jejaring lintas negara


    Ini bukan masalah. Justru ini aset. Yang jadi masalah adalah ketika semua itu tidak pernah benar-benar “diterjemahkan” ke konteks Indonesia. Akhirnya, yang dibawa pulang bukan solusi, tapi perspektif yang kadang tidak nyambung. Kita sering bangga punya lulusan luar negeri. Tapi jarang bertanya: mereka ini sebenarnya sedang membaca Indonesia dengan kacamata siapa? 

    Di titik ini, kita mulai masuk ke isu yang jarang dibahas: ketahanan informasi.

    Selama ini, LPDP lebih sering dilihat dari sisi akademik dan ekonomi. Padahal, ada satu layer penting yang sering luput—bagaimana para penerima beasiswa ini memproses informasi setelah terpapar dunia global. Karena ketika seseorang belajar di luar negeri, yang berubah bukan cuma ilmunya. Tapi juga:

    • cara melihat masalah
    • cara menentukan prioritas
    • bahkan cara memahami kepentingan nasional


    Kalau tidak ada “jangkar” yang kuat, yang terjadi bukan lagi brain drain, tapi sesuatu yang lebih halus: brain misalignment.

    Orangnya pulang. Pintar. Kompeten. Tapi arah kontribusinya tidak selalu nyambung dengan kebutuhan Indonesia. Bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena memang tidak pernah didesain untuk nyambung.

    Akhirnya, LPDP pelan-pelan berubah fungsi. Dari yang awalnya “investasi negara”, jadi semacam “akselerator karier individu”. Apakah ini salah? Tidak juga.

    Tapi kalau dibiarkan, kita akan sampai di situasi yang agak janggal: negara keluar banyak uang, talenta berkembang, tapi dampaknya terasa parsial.

    Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan arah.
    Yang dibutuhkan sebenarnya bukan sekadar memastikan mereka pulang, tapi memastikan mereka terhubung.
    Terhubung dengan:

    • masalah nyata di Indonesia
    • kebutuhan strategis nasional
    • dan cara berpikir yang tidak kehilangan konteks lokal


    Karena pada akhirnya, tantangannya bukan lagi “gimana caranya bikin orang pintar”, tapi: gimana caranya orang pintar ini tetap berpikir untuk Indonesia, di tengah dunia yang makin global.

    Kalau tidak, kita akan terus bangga melihat daftar alumni hebat, sambil diam-diam bertanya:  mereka ini sebenarnya sedang membangun apa—dan untuk siapa? Dan itu, mungkin, ironi terbesar dari semua ini. 



    Penulis : Mahendra Bhirawa, S.E., S.H., M.Sc. (Kabid Penelitian dan Pengembangan Bhumi Literasi Anak Bangsa)

    Komentar

    Tampilkan