Sebagai orang Jawa yang hampir satu dekade bertugas di Papua, saya menyadari bahwa banyak pandangan tentang Papua dibentuk oleh cerita yang tidak selalu utuh. Ada yang melihat Papua hanya dari sisi konflik, ada pula yang hanya menonjolkan keindahan alamnya. Padahal, Papua adalah wilayah yang jauh lebih kompleks daripada sekedar potongan-potongan informasi yang sering muncul di media atau percakapan sehari-hari. Pengalaman hidup di tanah Papua membuat saya tertarik untuk menulis dan membagikan cerita yang lebih berimbang.
Ketertarikan tersebut juga lahir dari keinginan untuk melawan apa yang dikenal sebagai confirmation bias atau bias konfirmasi. Bias ini terjadi ketika seseorang hanya mencari, mengingat, dan mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinannya, sambil mengabaikan fakta lain yang mungkin bertentangan. Akibatnya, seseorang dapat terjebak dalam pandangan yang sempit dan sulit menerima realitas yang lebih luas.
Papua sering menjadi contoh nyata bagaimana bias konfirmasi bekerja. Mereka yang sudah memiliki pandangan negatif tentang Papua cenderung hanya memperhatikan berita-berita buruk yang menguatkan keyakinannya. Sebaliknya, mereka yang hanya ingin melihat sisi positif terkadang mengabaikan berbagai tantangan yang memang masih dihadapi masyarakat di sana. Kedua sikap tersebut sama-sama berisiko menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap.
Melalui tulisan, saya ingin menghadirkan pengalaman langsung yang saya temui selama bertugas. Saya menyaksikan keramahan masyarakat, semangat anak-anak untuk belajar, serta kekayaan budaya yang luar biasa. Namun saya juga melihat berbagai persoalan pembangunan yang masih membutuhkan perhatian bersama. Menuliskan keduanya secara jujur merupakan cara untuk menghadirkan gambaran yang lebih utuh tentang Papua.
Menulis tentang Papua bukan sekedar aktivitas literasi, melainkan upaya untuk membangun pemahaman yang lebih adil dan objektif. Semakin banyak sudut pandang yang didengar, semakin kecil peluang kita terjebak dalam bias konfirmasi. Papua layak dipahami sebagaimana adanya: dengan segala kelebihan, tantangan, harapan, dan potensi besarnya untuk masa depan Indonesia.
Penulis: Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi. (Pgs. Sekretaris Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)

