Dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja, organisasi, maupun pergaulan sosial, kita pasti pernah berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah. Yang dimaksud bukan semata-mata tingkat pendidikan atau jabatan, melainkan cara berpikir, kedewasaan dalam bersikap, kemampuan memahami persoalan, etika berkomunikasi, serta kemauan untuk terus belajar. Pertanyaannya, apakah orang seperti ini harus dihadapi dan dibina, atau justru lebih baik dihindari?
Banyak orang memilih menghadapi mereka secara langsung. Alasannya sederhana, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Dengan pendekatan yang tepat, sebagian orang yang awalnya sulit diajak bekerja sama bisa berubah menjadi lebih baik. Memberikan arahan, teladan, dan kesempatan belajar merupakan bentuk kepedulian yang mencerminkan kualitas kepemimpinan.
Namun, realitas tidak selalu seindah harapan. Tidak semua orang memiliki kemauan untuk memperbaiki diri. Ada yang justru menolak masukan, merasa paling benar, gemar menyalahkan orang lain, dan menganggap kritik sebagai serangan pribadi. Dalam kondisi seperti ini, energi yang kita keluarkan sering kali jauh lebih besar dibandingkan hasil yang diperoleh.
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah menganggap semua orang harus diselamatkan. Padahal, perubahan hanya akan terjadi ketika seseorang memiliki kesadaran untuk berubah. Sehebat apa pun nasihat yang diberikan, jika telinga menolak mendengar dan pikiran menolak menerima, maka semua usaha hanya akan menjadi pemborosan tenaga dan waktu.
Karena itu, kebijaksanaan diperlukan untuk membedakan mana yang masih layak dibina dan mana yang harus diberi jarak. Jika seseorang masih memiliki niat belajar, mau mendengar, dan menunjukkan sedikit saja kemajuan, maka membimbingnya adalah investasi yang berharga. Sebaliknya, jika yang muncul hanyalah konflik, drama, dan penolakan tanpa henti, maka menjaga jarak sering kali menjadi pilihan yang lebih sehat.
Menghindari bukan berarti membenci. Banyak orang salah memahami bahwa menjauh adalah bentuk kesombongan. Padahal, dalam banyak situasi, menjaga jarak justru merupakan bentuk pengelolaan diri yang bijaksana. Sama seperti kita tidak akan terus-menerus menuangkan air ke dalam wadah yang bocor, kita juga tidak perlu terus menghabiskan energi pada orang yang tidak memiliki keinginan untuk berkembang.
Energi adalah sumber daya yang terbatas. Waktu, pikiran, emosi, dan perhatian yang kita miliki seharusnya digunakan untuk hal-hal yang produktif. Jika setiap hari kita harus berdebat dengan orang yang tidak mau memahami, meluruskan informasi yang sengaja dipelintir, atau menghadapi perilaku yang tidak dewasa, maka energi yang seharusnya digunakan untuk berkarya akan habis untuk menghadapi persoalan yang sama berulang kali.
Orang-orang yang berhasil dalam hidup umumnya memahami prinsip ini. Mereka tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk memenangkan setiap perdebatan atau mengubah setiap orang. Mereka memilih fokus pada pekerjaan, tujuan, dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Mereka sadar bahwa kualitas hidup sering kali ditentukan oleh kualitas orang-orang yang berada di sekitar mereka.
Meski demikian, bukan berarti kita harus menjadi pribadi yang eksklusif atau merendahkan orang lain. Sikap terbaik adalah tetap menghormati semua orang, menjaga etika, membantu ketika diperlukan, tetapi mengetahui batas keterlibatan. Kita dapat tetap bersikap baik tanpa harus terjebak dalam lingkaran perilaku yang menguras energi dan produktivitas.
Pada akhirnya, pertanyaan "dihadapi atau dihindari?" tidak memiliki jawaban yang mutlak. Jika masih ada harapan perubahan, hadapilah dengan kesabaran dan keteladanan. Namun jika yang terjadi hanyalah pengulangan masalah tanpa kemajuan, tidak ada salahnya mengambil jarak. Sebab kebijaksanaan bukan hanya tentang kemampuan membantu orang lain, tetapi juga kemampuan menjaga energi, waktu, dan ketenangan diri agar tetap dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi kehidupan.
Penulis: Rizal Mutaqin (Ketum Bhumi Literasi)


