Menanam
sayuran di halaman rumah sering kali dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan
sepele. Aktivitas ini identik dengan upaya memenuhi kebutuhan pangan keluarga
atau sekadar mengisi waktu luang. Namun, di balik kesederhanaannya, berkebun
ternyata memiliki manfaat lain yang tidak kalah penting, yaitu membantu menjaga
kesehatan mental dan memberikan ketenangan pikiran. Di era yang serba cepat dan
penuh tekanan seperti sekarang, berkebun bahkan dapat disebut sebagai salah
satu bentuk healing yang paling sederhana dan murah.
Konsep ini dikenal dengan istilah therapy
garden. Therapy garden merupakan pemanfaatan ruang hijau
yang ramah lingkungan dan dapat digunakan sebagai bagian dari berbagai program
terapi, seperti terapi okupasi, terapi fisik, maupun terapi hortikultura.
Melalui interaksi dengan unsur-unsur alam seperti tanaman, udara segar, dan
cahaya matahari, seseorang dapat memperoleh manfaat yang mendukung kesehatan
fisik maupun mental.
Tidak mengherankan jika saat berkebun,
seseorang sering merasakan ketenangan dan kedekatan dengan alam. Aktivitas
seperti menggemburkan tanah, menanam, menyiram, hingga merawat tanaman
melibatkan gerakan fisik yang bermanfaat bagi kebugaran tubuh. Selain membantu
menjaga kesehatan fisik dan berat badan, berkebun juga memberikan pengalaman
relaksasi yang mampu mengurangi tingkat stres. Merawat tanaman dan menghabiskan
waktu di ruang terbuka hijau dapat memberikan efek menenangkan bagi pikiran
(Chalmin-Pui et al., 2021).
Karena itu, menanam bukan hanya soal
memenuhi kebutuhan pangan. Lebih dari itu, aktivitas ini juga menjadi sarana
untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan mental yang sama pentingnya.
Keterhubungan antara manusia dan alam melalui kegiatan berkebun menjadi aspek
yang menarik untuk dikaji dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Jika kebiasaan berkebun semakin banyak dilakukan oleh warga, bukan tidak mungkin akan terbentuk lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan bahagia. Warga yang memiliki ruang untuk berinteraksi dengan alam cenderung lebih rileks, bersemangat, dan memiliki suasana hati yang lebih baik. Dengan demikian, halaman rumah yang ditanami sayuran tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial dan psikologis yang berharga bagi kehidupan masyarakat.
Penulis: Fazhurrahman, S.STP., M.AP. (Wakil Ketua DPW Bhumi Literasi Nusa Tenggara Barat)


