Di era ketika teknologi mampu menyelesaikan banyak pekerjaan secara cepat, ironisnya masih ada budaya kerja yang lebih menghargai penampilan daripada pencapaian. Kesibukan sering dijadikan ukuran profesionalisme, sementara efisiensi justru menimbulkan tanda tanya. Pegawai yang berpindah dari satu rapat ke rapat lain, terus-menerus mengetik di depan komputer, atau menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor kerap dianggap sebagai sosok yang paling berdedikasi. Sebaliknya, mereka yang mampu menyelesaikan tugas lebih cepat dengan hasil yang baik terkadang dipandang belum bekerja maksimal. Seolah-olah, yang paling penting bukanlah hasil kerja, melainkan bagaimana pekerjaan itu terlihat oleh orang lain.
Budaya "yang penting kelihatan kerja" sebenarnya lahir dari cara berpikir yang lebih menekankan simbol daripada substansi. Tidak sedikit organisasi yang tanpa sadar membangun sistem penghargaan berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Kehadiran fisik lebih mudah diukur daripada kualitas gagasan, lamanya rapat lebih mudah dihitung daripada ketepatan keputusan, dan jam lembur lebih mudah dicatat daripada nilai yang berhasil diciptakan. Akibatnya, banyak energi habis untuk menjaga citra sebagai orang yang sibuk, bukan untuk mencari cara agar pekerjaan menjadi lebih sederhana, lebih cepat, dan lebih bermanfaat.
Padahal, organisasi yang maju selalu dibangun oleh orang-orang yang berani menyederhanakan persoalan, bukan memperumitnya. Inovasi lahir ketika seseorang bertanya bagaimana pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih efektif, bukan bagaimana membuat dirinya tampak lebih sibuk. Teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan tidak diciptakan agar manusia memiliki lebih banyak pekerjaan, tetapi agar waktu yang dihemat dapat digunakan untuk berpikir lebih strategis, melahirkan ide-ide baru, dan memberikan pelayanan yang lebih berkualitas. Jika efisiensi justru dianggap sebagai ancaman, maka organisasi akan kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Perubahan budaya kerja harus dimulai dari keberanian mengubah cara menilai kinerja. Pemimpin perlu lebih sering bertanya tentang hasil yang dicapai daripada berapa lama pegawai berada di kantor. Keberhasilan seharusnya diukur melalui solusi yang dihasilkan, inovasi yang diciptakan, pelayanan yang semakin baik, dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Ketika penghargaan diberikan kepada kontribusi nyata, bukan sekedar kepada orang yang paling sibuk, maka setiap individu akan terdorong untuk bekerja lebih cerdas dan lebih bertanggung jawab.
Dunia kerja tidak membutuhkan aktor yang pandai memainkan peran sebagai orang yang selalu sibuk. Dunia kerja membutuhkan profesional yang mampu menghadirkan perubahan melalui ide, integritas, dan hasil nyata. Kesibukan hanyalah proses, sedangkan manfaat adalah tujuan. Karena itu, sudah saatnya kita meninggalkan budaya "yang penting kelihatan kerja" dan membangun budaya yang lebih menghargai kualitas daripada pencitraan. Organisasi yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang paling pandai terlihat bekerja, tetapi oleh mereka yang mampu menghadirkan nilai dari setiap pekerjaan yang mereka selesaikan.
Penulis: Afif Amrullah, S.E. (Ketua DPC Gresik)


