-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Bidang Humas Bhumi Literasi Anak Bangsa Gelar Ngobrol Bareng “Mitos vs Fakta Kesehatan Gigi”

    Bhumi Literasi
    Sunday, January 4, 2026, January 04, 2026 WIB Last Updated 2026-01-05T00:07:45Z

     


    Bidang Humas dan Kerjasama Bhumi Literasi Anak Bangsa menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk Ngobrol Bareng: Mitos vs Fakta tentang Kesehatan Gigi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya terkait perawatan dan pemahaman yang benar mengenai kesehatan gigi dan mulut.

    Acara ini menghadirkan narasumber drg. Rully Zaidan Andaria, yang dikenal aktif dalam edukasi kesehatan gigi. Dalam sesi ngobrol santai namun informatif ini, peserta diajak untuk memahami berbagai anggapan yang selama ini beredar di masyarakat, sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang kerap dianggap sebagai kebenaran.

    Salah satu mitos yang dibahas adalah anggapan bahwa odol harus berbusa banyak agar gigi benar-benar bersih. drg. Rully menegaskan bahwa hal tersebut merupakan mitos. Busa pada pasta gigi tidak menentukan tingkat kebersihan gigi, melainkan teknik menyikat gigi yang benar dan kandungan bahan aktif di dalam odol itu sendiri.

    Mitos lain yang sering dipercaya masyarakat adalah menyikat gigi sekuat mungkin agar gigi menjadi lebih sehat. Dalam pemaparannya, drg. Rully menjelaskan bahwa menyikat gigi terlalu keras justru dapat merusak enamel gigi dan melukai gusi. Oleh karena itu, menyikat gigi sebaiknya dilakukan dengan lembut namun menyeluruh.

    Selain itu, drg. Rully juga membantah mitos bahwa cabut gigi dapat menyebabkan mata menjadi rabun. Ia menegaskan bahwa tidak ada hubungan medis antara pencabutan gigi dengan gangguan penglihatan, sehingga anggapan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.

    Mitos berikutnya yang dibahas adalah keyakinan bahwa sakit gigi bisa sembuh sendiri jika ditahan tanpa perlu ke dokter gigi. Menurut drg. Rully, hal ini juga merupakan mitos. Sakit gigi umumnya merupakan tanda adanya masalah yang perlu ditangani secara profesional agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

    Dalam sesi tanya jawab, turut dibahas pula mengenai kebiasaan berkumur dengan air garam. drg. Rully menjelaskan bahwa berkumur air garam termasuk fakta, namun hanya bersifat sementara. Air garam dapat membantu mengurangi peradangan dan bakteri untuk sementara waktu, tetapi tidak dapat menggantikan perawatan dokter gigi.

    Melalui kegiatan ini, Bhumi Literasi Anak Bangsa berharap masyarakat dapat lebih kritis dalam menyaring informasi terkait kesehatan gigi. Edukasi berbasis fakta dinilai penting agar masyarakat tidak lagi terjebak pada mitos yang berpotensi merugikan kesehatan.

    Dalam kesempatan tersebut, drg. Rully juga menyampaikan rencananya untuk menerbitkan sebuah buku berjudul “Gigi Sehat, Hidup Nikmat”. Buku ini akan mengangkat edukasi kesehatan gigi secara komprehensif dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.

    Buku “Gigi Sehat, Hidup Nikmat” direncanakan akan diterbitkan setelah drg. Rully menyelesaikan pendidikan spesialis radiologi kedokteran gigi di Universitas Padjadjaran. Diharapkan, buku tersebut dapat menjadi referensi penting dalam meningkatkan kesadaran dan kualitas kesehatan gigi masyarakat Indonesia. 

     

    Acara ngobrol bareng tersebut dipandu oleh Mas Afif Amrullah selaku moderator yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Gresik Bhumi Literasi. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, Mas Afif berhasil menghidupkan suasana diskusi dan mengarahkan jalannya dialog agar tetap fokus pada tema mitos dan fakta seputar kesehatan gigi, sekaligus mendorong partisipasi aktif dari para peserta.

    Namun di tengah jalannya diskusi, terdapat dinamika lapangan yang mengharuskan adanya penyesuaian teknis. Diskusi kemudian dilanjutkan dan dipandu oleh Mas Rizal Mutaqin selaku Ketua Umum Bhumi Literasi, yang mengambil peran sebagai moderator menggantikan Mas Afif Amrullah. Pergantian moderator ini tetap menjaga kelancaran acara hingga selesai, serta memastikan seluruh materi dan pesan edukatif dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta. 

    Komentar

    Tampilkan