Di tengah dunia yang semakin kompetitif, relasi sering kali dipandang sebagai alat untuk mencapai keuntungan pribadi. Banyak orang memasuki hubungan, baik profesional maupun sosial, dengan pertanyaan tersembunyi: “Aku dapat apa?” Pola pikir ini terlihat wajar, namun sesungguhnya menjadi penghambat lahirnya relasi yang besar dan berkelanjutan.
Relasi yang dibangun atas dasar kepentingan sepihak cenderung rapuh. Ketika manfaat tidak lagi terasa, hubungan pun mudah ditinggalkan. Inilah sebabnya banyak kolaborasi gagal di tengah jalan: bukan karena kurangnya potensi, tetapi karena fondasinya tidak dilandasi niat untuk tumbuh bersama.
Pertanyaan “Aku dapat apa?” menempatkan diri sebagai pusat segalanya. Fokusnya adalah hasil instan, bukan proses. Padahal, relasi yang kuat membutuhkan waktu, kepercayaan, dan kesediaan untuk memberi sebelum menerima. Tanpa itu, hubungan hanya menjadi transaksi jangka pendek.
Sebaliknya, relasi besar lahir dari pertanyaan yang jauh lebih dewasa: “Kita bisa bangun apa?” Pertanyaan ini menggeser orientasi dari individu ke kolektif. Ada kesadaran bahwa sesuatu yang lebih besar hanya bisa terwujud melalui kerja sama, bukan ego pribadi.
Ketika dua atau lebih pihak mulai memikirkan apa yang bisa dibangun bersama, muncul rasa kepemilikan bersama. Setiap keberhasilan menjadi milik bersama, dan setiap kegagalan dipandang sebagai pelajaran bersama. Inilah yang membuat relasi menjadi lebih tahan uji.
Di dunia kerja, pola pikir ini terlihat dalam tim yang solid. Anggota tim tidak hanya mengejar pengakuan pribadi, tetapi berkontribusi demi tujuan bersama. Hasilnya bukan hanya kinerja yang baik, tetapi juga lingkungan kerja yang sehat dan saling mendukung.
Dalam kehidupan sosial dan komunitas, relasi yang dibangun atas dasar visi bersama melahirkan gerakan yang berdampak. Komunitas yang kuat tidak lahir dari orang-orang yang bertanya apa keuntungan pribadi mereka, melainkan dari mereka yang bertanya apa yang bisa mereka bangun untuk sesama.
Tentu, membangun relasi dengan semangat kolaborasi bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mendengar, kesabaran untuk memahami, dan keberanian untuk berkomitmen. Namun, justru di situlah nilai relasi diuji dan dimatangkan.
Relasi besar tidak selalu memberi hasil cepat, tetapi ia memberi makna jangka panjang. Kepercayaan yang terbangun hari ini bisa menjadi kekuatan besar di masa depan. Apa yang dibangun bersama akan selalu lebih kokoh daripada apa yang diraih sendiri.
Pertanyaan yang kita ajukan saat membangun relasi akan menentukan kualitas hubungan tersebut. Jika kita terus bertanya “Aku dapat apa?” maka yang lahir hanyalah relasi sempit. Namun, ketika kita bertanya “Kita bisa bangun apa?” di situlah relasi besar mulai menemukan jalannya.

.png)
