-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Bukan Kaleng-Kaleng! Bocah Ini Mainkan Gitar “Sudahi Perih Ini” dengan Penghayatan, Viral di TikTok

    Bhumi Literasi
    Thursday, January 29, 2026, January 29, 2026 WIB Last Updated 2026-01-30T00:34:28Z

     


    Fenomena viralnya video cover gitar lagu “Sudahi Perih Ini” yang dibawakan seorang bocah melalui akun TikTok @aimangitar254 menjadi potret menarik tentang bagaimana ruang digital bekerja hari ini. Di tengah lautan konten hiburan yang serba cepat dan sering kali dangkal, sebuah permainan gitar sederhana justru mampu mencuri perhatian publik secara masif. Hampir 25 juta penayangan menjadi bukti bahwa kualitas masih memiliki daya tarik yang kuat.

    Permainan gitar yang ditampilkan tidak hanya rapi secara teknis, tetapi juga sarat penghayatan. Sang bocah mampu menerjemahkan emosi lagu ke dalam petikan senar dengan cara yang natural. Hal ini membuat penonton bukan sekedar menonton, melainkan ikut merasakan suasana yang dibangun melalui musik. Inilah kekuatan utama yang membuat video tersebut mudah diterima dan dibagikan luas.

    Viralnya konten ini juga memperlihatkan bahwa bakat tidak selalu lahir dari panggung besar atau pendidikan formal yang mahal. Talenta dapat tumbuh dari ruang-ruang kecil, dari latihan sederhana, dan dari kecintaan terhadap musik. Media sosial, dalam hal ini, berperan sebagai jembatan yang mempertemukan karya dengan audiens yang lebih luas tanpa sekat.

    Menariknya, keberhasilan video ini tidak ditopang oleh sensasi atau kontroversi. Tidak ada tantangan ekstrem, tidak pula drama berlebihan. Yang ditawarkan hanyalah musik, rasa, dan ketekunan. Ini menjadi kritik halus terhadap ekosistem konten digital yang sering kali mengedepankan keviralan instan ketimbang nilai dan substansi.

    Bagi generasi muda, kisah @aimangitar254 dapat menjadi sumber motivasi yang nyata. Ia menunjukkan bahwa konsistensi berlatih dan keberanian untuk menampilkan karya dapat membuka peluang yang tidak terduga. Anak-anak dan remaja yang memiliki minat di bidang seni dapat melihat bahwa karya mereka layak untuk diapresiasi, bahkan oleh jutaan orang.

    Dari sisi pendidikan, fenomena ini mengingatkan pentingnya dukungan lingkungan terhadap minat dan bakat anak. Peran keluarga, sekolah, dan komunitas sangat krusial dalam menyediakan ruang eksplorasi yang sehat. Ketika anak diberi kepercayaan dan dukungan, potensi kreatif dapat berkembang secara alami dan berkelanjutan.

    Media sosial sendiri sejatinya adalah alat yang netral. Ia bisa menjadi ruang yang bising dan melelahkan, tetapi juga dapat menjelma menjadi etalase karya yang inspiratif. Konten @aimangitar254 menjadi contoh bahwa algoritma pun dapat “belajar” mengapresiasi kualitas ketika publik memberikan respons positif secara kolektif.

    Dalam perspektif yang lebih luas, viralnya video ini juga memperkaya narasi tentang literasi digital. Masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi turut berperan dalam menentukan konten apa yang layak mendapatkan perhatian. Pilihan untuk membagikan karya yang inspiratif adalah bentuk partisipasi aktif dalam membangun ekosistem digital yang lebih sehat.

    Ke depan, tantangan terbesarnya adalah menjaga agar viralitas tidak menjadi beban bagi sang bocah. Apresiasi publik perlu diiringi dengan perlindungan, pendampingan, dan pengelolaan ekspektasi yang bijak. Bakat yang masih muda membutuhkan ruang tumbuh, bukan tekanan untuk terus memenuhi standar viral.

    Kisah @aimangitar254 mengajarkan bahwa karya yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya sendiri. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, musik yang dimainkan dengan hati tetap mampu berbicara paling jujur. Viral ini bukan sekedar angka penayangan, melainkan penanda bahwa harapan dan inspirasi masih hidup di ruang-ruang sederhana. 

    Komentar

    Tampilkan