-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Menulis Bukan Bakat, Tapi Kebiasaan yang Dilatih

    Bhumi Literasi
    Thursday, January 29, 2026, January 29, 2026 WIB Last Updated 2026-01-30T04:24:11Z

     


     

    Menulis sering kali dipersepsikan sebagai aktivitas elitis, hanya untuk mereka yang berbakat, berpendidikan tinggi, atau berprofesi sebagai penulis. Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam buku “Semua Orang Bisa Menulis Buku”, menulis adalah kemampuan dasar manusia untuk merekam pikiran, pengalaman, dan gagasan. Tantangan terbesar bukan pada kemampuan teknis, melainkan pada keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk menjadikannya kebiasaan. Dari sinilah pentingnya membangun habit menulis sebagai fondasi budaya literasi.

    Budaya menulis tidak lahir dari momen-momen besar, melainkan dari praktik kecil yang dilakukan secara berulang. Menulis tidak harus menunggu inspirasi, waktu luang panjang, atau suasana ideal. Justru, kebiasaan menulis yang dilakukan secara sederhana dan rutin, misalnya 10 menit setiap hari, akan melatih pikiran untuk terbiasa menuangkan gagasan. Buku ini mengingatkan bahwa menulis adalah keterampilan yang tumbuh dari kebiasaan, bukan dari bakat bawaan semata.

    Ketika menulis dijadikan habit, ia tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan. Seperti halnya membaca atau berbicara, menulis menjadi bagian dari keseharian. Pikiran menjadi lebih tertata, emosi lebih terkelola, dan pengalaman hidup tidak berlalu begitu saja tanpa makna. Dalam hal ini, menulis berfungsi sebagai alat refleksi diri sekaligus sarana pembelajaran personal yang sangat efektif.

    Kebiasaan menulis memiliki dampak sosial yang luas. Setiap orang menyimpan cerita, pengetahuan, dan pengalaman yang berharga. Ketika kebiasaan menulis tumbuh, pengalaman-pengalaman tersebut tidak berhenti pada individu, tetapi dapat dibagikan dan diwariskan. Inilah awal dari budaya literasi yang hidup: ketika masyarakat terbiasa menulis, berbagi gagasan, dan saling belajar melalui tulisan.

    Buku “Semua Orang Bisa Menulis Buku” juga menekankan bahwa menulis tidak harus langsung berbentuk karya besar. Catatan harian, refleksi singkat, cerita pengalaman, atau tulisan ringan sudah cukup untuk memulai. Yang terpenting adalah keberlanjutan. Dari tulisan-tulisan kecil yang konsisten, perlahan akan terbentuk keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk menyusun karya yang lebih utuh, termasuk sebuah buku.

    Membangun budaya menulis juga berarti menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung. Banyak orang berhenti menulis karena takut salah atau takut dihakimi. Padahal, kesalahan adalah bagian alami dari proses belajar. Budaya menulis yang sehat tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kejujuran dan keberanian. Ketika menulis dipahami sebagai proses, bukan ajang penilaian, maka lebih banyak orang akan berani terlibat.

    Dalam kehidupan keluarga dan pendidikan, kebiasaan menulis memiliki peran strategis. Ketika orang tua menulis, anak-anak belajar bahwa menulis adalah aktivitas yang wajar dan menyenangkan. Ketika guru dan pendidik menulis, mereka memberi teladan bahwa ilmu dan pengalaman layak dibagikan. Dari rumah dan sekolah inilah budaya menulis bisa tumbuh secara organik dan berkelanjutan.

    Menulis juga merupakan bentuk tanggung jawab intelektual dan moral. Apa yang tidak ditulis akan mudah hilang, sementara apa yang ditulis memiliki peluang untuk menjadi jejak peradaban. Dengan membiasakan menulis, seseorang ikut menjaga ingatan kolektif masyarakat: tentang nilai, perjuangan, kearifan lokal, dan pelajaran hidup yang sering luput dari catatan formal. Menulis menjadi cara sederhana namun bermakna untuk berkontribusi pada bangsa.

    Ajakan dalam buku ini sangat jelas: jangan menunggu siap untuk menulis, tetapi menulislah agar menjadi siap. Habit menulis tidak dibangun dengan target muluk, melainkan dengan komitmen kecil yang dijaga setiap hari. Konsistensi jauh lebih penting daripada kualitas awal tulisan. Seiring waktu, kualitas akan mengikuti kebiasaan.

    Budaya menulis adalah fondasi dari budaya berpikir dan budaya belajar. Jika setiap orang mau menulis, meski sedikit, maka masyarakat akan dipenuhi oleh gagasan, refleksi, dan pengetahuan yang hidup. “Semua Orang Bisa Menulis Buku” bukan sekedar judul, melainkan sebuah ajakan kultural: mari menulis, mari membiasakan, dan dari kebiasaan itulah peradaban literasi tumbuh dengan kokoh.

     


     

    Komentar

    Tampilkan