Kolonel Laut (KH) Bayu Kurnianto, M.T.I., CHRMP., pencipta lagu “Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan”, sampaikan pernyataan reflektif dalam acara peluncuran buku Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan (Sang Jenderal Pecinta Buku) yang digelar di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI). Ia menegaskan bahwa karya buku dan lagu tersebut lahir dari semangat yang sama, yakni menghadirkan nilai spiritualitas, literasi, dan pengabdian dalam ruang kepemimpinan.
Menurut Bayu, judul Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan bukan sekedar simbol religius, tetapi refleksi perjalanan hidup manusia yang selalu berada dalam bimbingan Tuhan. Ia menilai bahwa setiap fase kehidupan, baik keberhasilan maupun ujian, merupakan bagian dari proses pembentukan karakter dan kematangan kepemimpinan.
Ia menyampaikan bahwa lagu yang ia ciptakan terinspirasi dari nilai-nilai yang juga diangkat dalam buku karya Kapten Cke Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc., yaitu ketekunan, keikhlasan, dan keyakinan bahwa jalan pengabdian selalu memiliki dimensi spiritual yang mendalam.
Dalam pandangannya, kepemimpinan sejati tidak hanya dibentuk oleh kecerdasan intelektual dan kekuatan struktural, tetapi juga oleh kekuatan batin, moralitas, dan integritas pribadi. Nilai-nilai tersebut, menurut Bayu, hanya bisa tumbuh melalui proses refleksi diri dan pembelajaran yang berkelanjutan.
Bayu juga menekankan pentingnya literasi sebagai fondasi pembentukan pemimpin yang berkarakter. Budaya membaca dan belajar tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membentuk kedalaman berpikir, ketenangan bersikap, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Ia menilai bahwa sosok Mayor Jenderal TNI Dr. R. Nugraha Gumilar, M.Sc. yang diangkat dalam buku tersebut merepresentasikan figur pemimpin yang memadukan kekuatan intelektual, spiritual, dan keteladanan moral dalam satu kesatuan nilai.
Menurutnya, literasi dan spiritualitas tidak boleh diposisikan sebagai dua hal yang terpisah, melainkan harus berjalan beriringan dalam membentuk karakter pemimpin bangsa. Pemimpin yang kuat secara intelektual, namun rapuh secara moral, dinilai tidak akan mampu membangun peradaban yang berkelanjutan.
Bayu juga mengapresiasi kolaborasi antara Bhumi Literasi Anak Bangsa dan Universitas Pertahanan RI dalam menghadirkan karya literasi yang bernuansa reflektif dan edukatif. Ia menilai kolaborasi tersebut sebagai bentuk nyata integrasi antara dunia akademik, pertahanan, dan gerakan literasi.
Ia berharap buku Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan tidak hanya dibaca sebagai biografi tokoh, tetapi sebagai ruang pembelajaran nilai bagi generasi muda, mahasiswa, dan calon pemimpin bangsa dalam membangun karakter, integritas, dan orientasi pengabdian.
Menutup pernyataannya, Kolonel Laut (KH) Bayu Kurnianto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan literasi, refleksi spiritual, dan keteladanan sebagai fondasi dalam membangun kepemimpinan masa depan, seraya meyakini bahwa setiap jalan pengabdian akan selalu dibukakan oleh tangan Tuhan.

