-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Di Tengah Banjir, Warga Masih Buang Sampah Sembarangan

    Bhumi Literasi
    Sunday, January 25, 2026, January 25, 2026 WIB Last Updated 2026-01-26T00:19:22Z

     



    Banjir yang merendam permukiman warga kembali menjadi pemandangan yang berulang di banyak wilayah. Air meluap, jalanan tergenang, dan aktivitas masyarakat terganggu. Dalam situasi seperti ini, perhatian publik biasanya tertuju pada curah hujan, sistem drainase, atau kesiapan pemerintah daerah. Namun ada satu pemandangan yang justru memantik keprihatinan lebih dalam: masih adanya warga yang membuang sampah sembarangan di tengah banjir yang sedang terjadi.

    Perilaku tersebut mencerminkan persoalan mendasar dalam budaya lingkungan masyarakat. Banjir tidak selalu dipandang sebagai akibat dari rangkaian tindakan manusia, melainkan semata-mata sebagai bencana alam yang datang tiba-tiba. Padahal, kebiasaan membuang sampah sembarangan secara langsung berkontribusi pada tersumbatnya saluran air dan memperparah genangan. Ketika kesadaran ini diabaikan, banjir akan terus menjadi siklus yang sulit diputus.

    Ironisnya, pelaku pembuangan sampah sering kali adalah bagian dari masyarakat yang terdampak langsung oleh banjir. Mereka hidup di lingkungan yang sama, menggunakan fasilitas yang sama, dan merasakan kerugian yang sama. Namun kontradiksi antara tindakan dan dampak ini menunjukkan adanya jarak antara pengetahuan dan perilaku. Mengetahui bahwa sampah dapat menyebabkan banjir tidak otomatis membuat seseorang berhenti melakukannya.

    Kebiasaan buruk ini telah berlangsung lama dan seolah dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Sungai, selokan, dan lahan kosong kerap diperlakukan sebagai tempat pembuangan akhir. Ketika hujan turun deras, sampah-sampah tersebut berpindah, menumpuk, dan akhirnya menghambat aliran air. Banjir pun datang bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai konsekuensi yang sebenarnya bisa diprediksi.

    Di sisi lain, pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan infrastruktur pengelolaan sampah dan sistem drainase yang memadai. Namun tanggung jawab tersebut tidak dapat berdiri sendiri tanpa partisipasi aktif masyarakat. Pembersihan saluran air secara berkala akan sia-sia jika setiap hari sampah kembali dibuang sembarangan. Masalah banjir pada akhirnya menjadi persoalan bersama, bukan saling menyalahkan.

    Edukasi lingkungan perlu dilakukan secara konsisten dan menyentuh akar persoalan. Kampanye kebersihan yang bersifat seremonial tidak cukup untuk mengubah perilaku yang telah mengakar. Dibutuhkan pendekatan yang lebih membumi, melalui keluarga, sekolah, dan komunitas lokal, agar kesadaran lingkungan tumbuh sebagai nilai, bukan sekedar kewajiban.

    Penegakan aturan juga memegang peran penting dalam membentuk disiplin sosial. Larangan membuang sampah sembarangan sering kali hanya menjadi tulisan di papan peringatan tanpa konsekuensi nyata. Ketika aturan tidak ditegakkan, pesan yang sampai ke masyarakat adalah pembiaran. Padahal, ketegasan hukum dapat menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

    Selain itu, keteladanan dari tokoh masyarakat dan aparat setempat sangat dibutuhkan. Masyarakat akan lebih mudah meniru tindakan nyata daripada mendengar imbauan berulang-ulang. Ketika para pemimpin lokal menunjukkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, budaya positif akan lebih cepat terbentuk dan menyebar.

    Banjir seharusnya menjadi pelajaran bersama tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Setiap sampah yang dibuang sembarangan mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya bisa berlipat ganda ketika terakumulasi. Dalam hal ini, perubahan besar justru dimulai dari tindakan paling sederhana: membuang sampah pada tempatnya.

    Jika kebiasaan buruk ini terus dipelihara, maka banjir akan tetap menjadi agenda tahunan yang melelahkan. Namun jika masyarakat mau bercermin dan mengubah perilaku, banjir tidak lagi sekedar takdir yang diterima pasrah. Ia bisa dicegah, atau setidaknya dikurangi, melalui kesadaran bersama bahwa lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab semua pihak, tanpa terkecuali.

    Komentar

    Tampilkan