-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Kompleks Superioritas

    Bhumi Literasi
    Sunday, January 18, 2026, January 18, 2026 WIB Last Updated 2026-01-19T06:55:12Z

     


    Setelah membahas kompleks inferioritas di tulisan sebelumnya, sekarang saya coba kupas tentang kompleks yang lain yaitu kompleks superioritas. Saya ambil ini dari buku “The Courage To Be Disliked” karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga, dengan sumber yang sama dari si kompleks inferioritas.

    Kali ini saya mau cerita sedikit tentang pandangan saya terhadap manusia dengan kompleks superioritas. Entah itu manusia lain, maupun saya yang terakhir kali saya check masih berbentuk manusia. Beberapa hari yang lalu, saya lagi suka-sukanya baca buku yang berbau psychology emotional. Selain, ada kepikiran pengen S2 Neuroscience, juga pengen tahu dan riset perbedaan signifikan apa yang terdapat dalam sel neuron manusia jaman sekarang, sampai untuk melakukan sesuatu atau berbicara sesuatu itu nggak ada lagi second thoughts-nya. Manusia itu mahluk yang nggak pernah berhenti buat saya terpana dengan segala macam sifatnya, segala macam tingkahnya/polahnya, bahkan kerempongannya.

    Berbicara soal manusia, manusia itu membuat banyak sekali judgement. Kita menilai diri kita seolah-olah nggak akan mampu untuk melakukan banyak hal. Kita menilai diri kita nggak lebih baik dari orang-orang lain yang mungkin lebih pintar dan lebih sukses dari kita. Selain mencari keburukan diri sendiri, manusia itu juga senang sekali mencari keburukan orang lain. Misal, kita bertemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah meng-scanning dirinya dan mencari celanya. Entah itu dari wajah atau bagian fisik lainnya. Setelah selesai meng-scanning fisiknya, kita lanjut dengan meng-scanning hidupnya. Lalu, setelah meng-scanning hidupnya, kita mulai dengan menata kesimpulan di kepala. Tentang pilihan hidupnya, tentang keputusannya, tentang apa yang seharusnya dia lakukan. Menariknya, proses ini seringkali terjadi tanpa data yang cukup apalagi valid, bahkan tanpa adanya empati sekalipun. Tapi, anehnya dengan menilai seperti itu merasa sudah cukup yakin atas penilaiannya.

    Nah, di titik inilah, kompleks superioritas mulai bekerja. Kalau dari sudut pandang teori psikologi Adler yang sudah dijelaskan di dalam buku “The Courage To Be Disliked”, kompleks superioritas itu bukan tanda bahwa seseorang itu benar-benar merasa lebih baik. Justru sebaliknya, Ia muncul sebagai reaksi atas rasa inferior yang tidak tertangani. Ketika seseorang tidak sanggup berdamai dengan perasaannya yang “tidak merasa cukup”, ia pasti akan memilih jalan pintas dengan merasa lebih baik dari orang lain.

    Makanya dengan mengomentari hidup orang lain, menunjuk kelemahan orang lain, maupun membicarakan hal negatif tentang orang lain, seolah sudah naik satu tingkat tanpa harus capek-capek upgrade diri. Dengan merasa “aku lebih benar”, “anakku lebih baik dari anak si X”, “kalau aku jadi dia, aku nggak akan sebodoh itu”. “eh udah denger belum? si X banyak nggak disukain disini”, “Kok anaknya nggak pernah keluar?”. Parahnya, komentar-komentar itu jarang datang dari orang yang benar-benar terlibat dalam hidup kita. Mereka bukan yang bayar makan kita, bukan yang nemenin kita waktu lagi down, tapi malah jadi manusia yang paling rajin kasih penilaian. Ibarat juri lomba tapi nggak pernah ikut lombanya. Kenapa yang begini ini makin banyak ? Karena, naturalnya manusia itu memang doyan mencari-cari keburukan orang lain, padahal belum tentu benar.

    Manusia seperti itu biasanya punya insecure sama diri mereka sendiri, tapi kita yang jadi korban. Seseorang yang lagi nggak puas sama hidupnya sendiri, kita yang jadi korban. Yup, saya masih merasa orang yang suka menyebarkan kebencian ke orang lain sebenarnya mereka yang punya issue sama diri mereka sendiri. Ketimbang menyalahkan diri sendiri dan mencoba untuk introspeksi, mereka lebih suka melempar amarah tersebut ke orang lain. Bayangkan dengan mencari-cari kesalahan orang lain, mencari-cari dosa orang lain, memperolok orang lain, menggunjing orang lain, bahkan mengekspos satu orang untuk dijadikan bahan pembicaraan negatif yang berujung fitnah, cacian dan tertawaan. Mereka merasa sudah menjadi manusia paling top dan keren. Tetapi, karena manusia seperti itu kebanyakan pengecut, takut kalau yang mereka lakukan itu bakal diketahui oleh orang yang dibicarakan. Maka dari itu, mereka lebih memilih untuk membicarakannya di belakang. Ibarat melempar orang tersebut dengan batu, tapi kepalanya ditutupi dengan kardus.

    Manusia seperti itu lupa satu hal penting, bahwasanya hidup bukanlah kompetisi siapa yang paling kelihatan benar atau baik, melainkan proses masing-masing orang untuk sampai pada versinya sendiri. Dalam teori psikologi Adler, manusia yang sehat itu tidak membutuhkan posisi “lebih tinggi” untuk merasa bernilai. Ia tidak sibuk menjatuhkan, tidak memerlukan pembanding, dan tidak membutuhkan penonton. Ketika, seseorang merasa cukup dengan dirinya, akan dipastikan tidak akan tergoda untuk menjadikan kehidupan orang lain sebagai panggung pembuktian ego.

    Mungkin disini yang perlu kita latih itu bukan kepekaan dalam menilai, tetapi keberanian untuk berhenti. Berhenti merasa paling unggul, berhenti menghakimi, berhenti merasa hidup orang lain adalah urusan kita. Karena, seringkali Kompleks Superioritas itu bukan soal merasa paling hebat, melainkan cara paling rapi untuk menutupi ketakutan terbesar manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.

    Hate Speech is a big issue. Stop saying that it’s not. 

    Sumber 

    Komentar

    Tampilkan