-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Sudut Pandang

    Bhumi Literasi
    Sunday, January 18, 2026, January 18, 2026 WIB Last Updated 2026-01-19T06:40:14Z

     


    Kata-kata yang sering Ibu ucapkan ketika saya berbagi cerita tentang hidup. Segala hal itu pada dasarnya bersifat netral, hanya saja dari kita yang memberikan perspektif aka sudut pandang atas suatu hal tersebut yang akan berpengaruh pada sisi pemahaman, perasaan, emosi, bahkan sampai dengan hal memberikan respon terhadap suatu hal itu.

    Ada kalanya saya memilih untuk mengubah sudut pandang dan mencari sisi baik dari setiap situasi, bahkan yang nyatanya sulit sekalipun. Karena, Tuhan pasti memberi kita kekuatan untuk survive, dan pastinya kita mampu melewati setiap tantangan yang datang. layaknya slogan yang sering kita dengar di berbagai macam media sosial “it will past”.

    Tidak jarang kita terjebak pada suatu keyakinan bahwa sudut pandang kitalah yang paling benar. Padahal, sudut pandang itu sendiri seperti kacamata, yang terkadang kita sering lupa kalau kacamata kita bisa lepas. Kita mengira apa yang kita lihat adalah kebenaran mutlak. Nyatanya, bisa jadi itu hanya benar menurut versi kita. Yang repotnya, kita sering ingin orang lain memakai kacamata yang sama dengan kita. Kalau mereka tidak setuju, kita bilang mereka “nggak ngerti”. Padahal, mereka cuma melihat suatu hal itu dari arah yang berbeda.

    Dan dari sinilah saya belajar satu hal penting, bahwa tidak semua perbedaan perlu diluruskan, dan tidak semua ketidaksepemahaman harus dimenangkan. Ada hal-hal yang hanya cukup dipahami saja tanpa harus disepakati. Karena, pada akhirnya, setiap orang membawa cerita dan prosesnya masing-masing ke dalam cara mereka memandang hidup. Saya pun mengerti bahwa mengubah sudut pandang adalah bentuk kedewasaan dalam berdamai dengan keadaan.

    Memang sulit jika memaksakan untuk mengubah sudut pandang atas suatu hal yang benar-benar buruk terjadi. Tapi, di saat itulah, saya teringat lagi pada nasihat ibu, bahwa “Hidup tidak selalu meminta kita untuk kuat setiap waktu, tetapi meminta kita cukup sabar untuk bertahan satu langkah lagi”. Terkadang, satu langkah itu adalah upaya kita memilih untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap suatu hal buruk tersebut, atau bahkan memilih diam agar emosi tidak mengambil alih akal sehat.

    Pelan-pelan, saya belajar memandang hidup jauh lebih luas. Bahwa, manusia yang terus belajar, jatuh, bangkit, lalu berjalan lagi adalah bagian dari proses menjadi manusia. 

     

    Sumber 

    Komentar

    Tampilkan