Awal mula mengenal kompleks inferioritas yang terdengar asing di telinga saya sebelumnya ini, berasal dari buku bacaan yang baru-baru ini saya baca. Hal ini membuat saya makin penasaran kondisi seperti apa sih sebuah perasaan yang sering disebut sebagai kompleks inferioritas ini. Yang pastinya, saya mencari tahu dulu apa itu inferioritas. Ternyata inferioritas dalam dunia psikologi adalah perasaan subjektif yang muncul dalam berbagai bentuk, seperti merasa lebih rendah posisinya dibandingkan dengan orang lain, merasa kurang mampu, kurang berharga, kurang menarik, atau merasa kurang sukses, bisa diartikan perasaan minder juga ya.
Dalam dunia psikologi, Inferioritas ini bukan selalu didasarkan pada fakta objektif, melainkan pada cara seseorang itu menilai dan membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain maupun lingkungan sekitar. Ini sebuah pengalaman yang alami dan manusiawi sebenarnya. Karena, pada dasarnya setiap individu pasti pernah merasa tidak sempurna atau tertinggal dengan yang lain. Bisa dalam aspek pendidikan, karier, sosial, atau pencapaian hidup ya. Ini netral, kalau kita ambil positifnya bisa menjadi pemicu untuk mau terus belajar, berkembang, bertumbuh, dan self improvement.
Tapi ternyata inferioritas itu sendiri malah menjadi masalah ketika si perasaan itu menetap dan bahkan mendominasi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Nah, saat itulah inferioritas berubah menjadi kompleks inferioritas. Yang berarti kondisi ketika seseorang selalu meyakini dirinya sendiri tidak mampu dan menjadikan keyakinan atas ketidak mampuannya sebagai suatu alasan untuk menghindari tanggung jawab atau tantangan hidup.
Dan perasaan inferioritas ini bukanlah sebuah takdir atau hasil mutlak dari kejadian di masa lalu. Ini merupakan hasil dari interpretasi diri. Kalau dari buku yang saya baca yaitu “The Courage To Be Disliked” karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga, inferioritas itu bukan suatu penyakit, melainkan sesuatu yang wajar yang dialami oleh banyak orang, termasuk saya pun pernah merasakan seperti itu. Dan ternyata dengan kita memahami apa itu inferioritas, kita bisa melihat kalau masalah utama sebenarnya bukan ada pada kekurangan itu sendiri, tetapi pada bagaimana seseorang bersikap terhadap kekurangan itu sendiri. Dari situlah, terjadi proses pemulihan, penerimaan diri, dan pastinya diikuti dengan perkembangan diri menjadi lebih baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali orang merasa dirinya kurang dibandingkan dengan orang lain bahkan kurang percaya diri. Dua orang dengan kondisi yang sama sekalipun bisa memiliki sikap inferioritas yang sangat berbeda. Satu orang mungkin bisa menjadikan kekurangannya sebagai bahan motivasi, sementara yang lain mungkin menjadikannya sebagai alasan untuk “ah sudahlah” atau menyerah saja. Bahkan ketika ada seseorang berkata “Saya tidak bisa berhasil karena saya tidak sepintar mereka”, ini seringkali dilontarkan oleh seseorang yang sedang mengalami inferior, padahal itu bukan suatu kebenaran mutlak, tetapi bentuk pembenaran seseorang tersebut agar bisa menghindari tanggung jawab atau tantangan yang sedang dihadapi.
Menurut teori psikologi Adler pada buku “The Courage To Be Disliked”, satu langkah penting untuk bisa keluar dari jerat inferioritas itu sendiri adalah berhenti membanding-bandingkan hidup secara vertikal, seperti siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih rendah, atau siapa yang lebih sukses, dan lain sebagainya. Karena, ketika seseorang berhenti membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Maka, otomatis fokusnya akan bergeser menjadi “Apa kontribusi yang bisa saya berikan ?” Nah dari perubahan sudut pandang inilah yang membebaskan seseorang dari belenggu inferioritas. Selama seseorang berani bertangggung jawab atas hidupnya sendiri dan berani tidak selalu disukai, maka kompleks inferioritas perlahan kehilangan kekuatannya. Pada dasarnya, kompleks inferioritas itu bukanlah vonis seumur hidup. Ia adalah sinyal bahwa manusia sedang mencari makna dan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri. Kita diajak untuk berdamai dengan diri sendiri, berhenti hidup dalam bayang-bayang penilaian orang lain demi disukai dan mulailah melangkah dengan kesadaran penuh bahwa setiap manusia memiliki nilai yang setara.


