Ada manusia yang lebih memilih memadamkan lampu daripada harus melihat bayangannya sendiri di dinding. Bukan, bukan karena gelap itu menenangkan, melainkan karena terang yang berarti menuntut kejujuran. Ia bahkan gemar menunjuk langit ketika hujan jatuh, seolah awanlah yang bersalah karena membuat bajunya menjadi basah. Padahal, ia sendiri yang lupa membawa payung.
Setiap kekecewaan yang dirasakan, ia lemparkan ke wajah orang lain. Setiap luka, ia jadikan tuduhan. Setiap keliru, ia sembunyikan dibalik suara kerasnya. Ia tak membenci kebenaran, namun ia hanya takut bertemu dengan dirinya sendiri di cermin. Sebab refleksi adalah pisau bermata dua. Ia memilih jalan sunyi yang salah, agar tak lagi perlu mengakui bahwa langkahnya sendiri yang keliru.
Celakanya, kesalahan yang tidak pernah diakui itu ternyata tidak benar-benar pergi. Ia tinggal. Menetap. Bahkan berakar. Lalu, tumbuh diam-diam menjadi luka yang diwariskan kepada orang-orang yang mencintai. Dan pada akhirnya, bukan dunialah yang kejam.
Dalam hidup, ada kalanya sesuatu berjalan tidak seperti yang kita harapkan. Dan refleksi diri itu penting. Bukan karena soal merendahkan diri, melainkan menjadi sebuah upaya untuk memahami diri. Apa yang bisa diperbaiki, apa yang harus dilepaskan, dan apa yang mestinya perlu disyukuri. Karena, hidup tidak meminta kita untuk sempurna.


