-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Menembus Banjir, Menjaga Amanah: Keteladanan Pembina Bhumi Literasi Anak Bangsa

    Bhumi Literasi
    Monday, January 12, 2026, January 12, 2026 WIB Last Updated 2026-01-13T01:24:46Z

     


    Ada cerita unik sekaligus inspiratif dari sosok Pembina Bhumi Literasi Anak Bangsa, Bapak Bayu Kurnianto. Kisah ini bukan sekedar tentang banjir, melainkan tentang nilai keteladanan, pengabdian, dan semangat pantang menyerah yang relevan hingga hari ini, terutama dalam gerakan literasi.

     

    Pada Februari 2020, beberapa titik di Jakarta dilanda banjir yang melumpuhkan banyak aktivitas masyarakat. Akses jalan terputus, kendaraan terendam, dan banyak orang terpaksa menghentikan aktivitasnya. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkah Pak Bayu untuk tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

     

    Dengan mengendarai mobil Ertiga, Pak Bayu berjuang menembus genangan banjir. Ketika kondisi tak lagi memungkinkan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu karet. Sebuah pemandangan yang mungkin jarang terjadi, tetapi menjadi simbol kuat dari komitmen seorang pemimpin terhadap amanah yang diembannya.

     

    Saat itu, Pak Bayu menjabat sebagai Kepala Dinas Infolahta Koarmada I. Markasnya berada di Jalan Gunung Sahari 67, Jakarta Pusat, kawasan yang dikenal dekat dengan Pasar Baru dan menjadi salah satu titik yang terdampak cukup parah oleh banjir kala itu.

     

    Keputusan untuk tetap masuk kantor di tengah kondisi ekstrem bukanlah tindakan heroik yang mencari sorotan, melainkan cerminan disiplin dan dedikasi. Di sinilah nilai kepemimpinan sejati diuji, bukan saat keadaan nyaman, tetapi justru ketika situasi sulit dan penuh risiko.

     

    Kisah ini menjadi relevan ketika kita melihat peran Pak Bayu saat ini sebagai Pembina Bhumi Literasi Anak Bangsa. Semangat menembus banjir itu sejalan dengan semangat membangun literasi: penuh tantangan, seringkali sunyi, namun membutuhkan konsistensi dan keberanian.

     

    Literasi, seperti halnya tugas di masa krisis, tidak selalu berjalan di jalur mulus. Ada keterbatasan, hambatan struktural, dan tantangan sosial yang harus dihadapi. Sosok pembina dengan rekam jejak keteladanan seperti ini memberi energi moral bagi para pegiat literasi di berbagai daerah.

     

    Cerita Februari 2020 tersebut juga mengajarkan bahwa jabatan bukan alasan untuk berjarak dengan kenyataan di lapangan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang bersedia “turun ke genangan,” memahami situasi nyata, dan hadir bersama orang-orang yang dipimpinnya.

     

    Bhumi Literasi Anak Bangsa beruntung memiliki pembina dengan nilai-nilai tersebut. Gerakan literasi membutuhkan lebih dari sekedar konsep; ia memerlukan figur yang memberi contoh nyata tentang tanggung jawab, kerja keras, dan kesetiaan pada misi.

     

    Kisah Pak Bayu menembus banjir bukan hanya cerita masa lalu, tetapi pesan abadi: bahwa pengabdian sejati tidak mengenal cuaca, kondisi, atau kenyamanan. Nilai inilah yang patut dirawat dan diwariskan dalam setiap langkah Bhumi Literasi Anak Bangsa menuju masa depan yang lebih berpengetahuan.


    Komentar

    Tampilkan