Literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi utama peradaban. Dari literasi, manusia belajar memahami dunia, menafsirkan realitas, dan menata masa depan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang warganya gemar belajar, berpikir kritis, dan mampu menuangkan gagasan untuk kebaikan bersama.
Membaca membuka jendela pengetahuan yang tak berbatas. Setiap halaman yang dibaca merupakan langkah menuju wawasan yang lebih luas. Dari cerita sederhana hingga pemikiran besar para tokoh dunia, membaca menumbuhkan empati, memperkaya imajinasi, dan menguatkan nalar.
Menulis adalah bentuk keberanian intelektual. Ketika kita menulis, kita tidak hanya menyampaikan pikiran, tetapi juga meninggalkan jejak makna. Tulisan adalah warisan; ia melintasi waktu dan ruang, menghubungkan gagasan hari ini dengan generasi esok.
Literasi juga menumbuhkan karakter. Ia melatih kesabaran, ketekunan, dan kejujuran berpikir. Dalam proses membaca dan menulis, seseorang belajar menghargai perbedaan sudut pandang serta merawat akal sehat di tengah derasnya informasi.
Dari daerah ke pusat, dari desa ke kota, gerakan literasi adalah ikhtiar kolektif. Setiap komunitas yang menyalakan semangat membaca sedang menanam benih perubahan. Sekecil apa pun upaya itu, dampaknya dapat menjalar luas dan berkelanjutan.
Anak-anak adalah harapan masa depan literasi bangsa. Ketika mereka dikenalkan pada buku dan cerita sejak dini, mereka tumbuh dengan rasa ingin tahu yang sehat. Dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci agar kebiasaan baik ini mengakar kuat.
Di era digital, literasi semakin penting. Bukan hanya membaca teks, tetapi juga memilah informasi, memverifikasi kebenaran, dan menggunakan teknologi secara bijak. Literasi digital menjaga kita dari hoaks dan menuntun pada pemanfaatan pengetahuan yang bertanggung jawab.
Merawat Indonesia berarti merawat daya pikir warganya. Literasi menyatukan perbedaan, membangun dialog, dan menumbuhkan solusi. Dari diskusi kecil hingga kebijakan besar, semua bermula dari kemampuan memahami dan menyampaikan gagasan dengan baik.
Setiap individu memiliki peran. Mulailah dari diri sendiri: luangkan waktu membaca setiap hari, menulis catatan kecil, dan berbagi pengetahuan. Jadikan literasi sebagai kebiasaan, bukan sekedar kewajiban.
Dengan membaca kita mengenal dunia, dan dengan menulis kita dikenal dunia. Mari rawat Indonesia melalui literasi, menanam hari ini, memanen masa depan. Bersama, kita bangun peradaban yang cerdas, beradab, dan bermartabat.


