Literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi utama dalam membentuk cara berpikir dan cara memandang dunia. Dari literasi, lahir pemahaman, empati, dan keberanian untuk bertanya tentang makna hidup serta arah masa depan. Anak bangsa yang literat adalah mereka yang mampu melihat peluang di balik keterbatasan.
Membaca membuka jendela dunia yang luas tanpa batas ruang dan waktu. Melalui buku, anak-anak dapat menjelajah berbagai peradaban, mengenal tokoh inspiratif, dan belajar dari kesalahan masa lalu. Dari sanalah benih mimpi mulai tumbuh, mimpi untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
Namun, literasi tidak berhenti pada membaca. Menulis adalah bentuk keberanian untuk menyuarakan pikiran dan perasaan. Dengan menulis, anak-anak belajar merangkai ide, menyampaikan gagasan, dan meninggalkan jejak pemikiran yang dapat menginspirasi orang lain.
Berani bermimpi berarti berani berpikir merdeka. Literasi melatih anak bangsa untuk tidak sekedar menerima informasi, tetapi juga mengolah, mengkritisi, dan mengambil sikap. Inilah bekal agar generasi muda tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, literasi menjadi kekuatan untuk bertahan dan berkembang. Anak-anak yang gemar membaca dan menulis cenderung lebih adaptif, kreatif, serta mampu menemukan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat penting dalam menumbuhkan budaya literasi. Keteladanan orang dewasa dalam membaca, berdiskusi, dan menghargai pengetahuan akan membentuk ekosistem yang subur bagi tumbuhnya generasi pembelajar.
Literasi juga menumbuhkan kepercayaan diri. Ketika anak mampu memahami bacaan dan mengekspresikan gagasannya, ia akan merasa dihargai dan didengar. Dari rasa percaya diri inilah keberanian untuk bermimpi besar semakin menguat.
Mimpi tidak selalu tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Literasi membantu anak mengenali potensi, minat, dan nilai hidup yang diyakininya. Dengan begitu, setiap mimpi memiliki arah dan makna.
Anak bangsa yang berani bermimpi adalah mereka yang tidak takut gagal. Melalui bacaan, mereka belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan. Literasi mengajarkan ketekunan, kesabaran, dan semangat untuk terus mencoba.
Berani bermimpi adalah langkah awal untuk membangun masa depan bangsa. Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis kita dikenal dunia. Mari tumbuhkan literasi sebagai gerakan bersama, agar lahir generasi yang berpikir merdeka, berkarakter kuat, dan siap membawa Indonesia melangkah lebih jauh.


