-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Rumah Aktor Senior Diding Boneng di Matraman Roboh Akibat Kondisi Lapuk

    Bhumi Literasi
    Thursday, January 1, 2026, January 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-02T02:23:47Z

     


    Runtuhnya rumah aktor senior Diding Boneng di kawasan Matraman menjadi peristiwa yang lebih dari sekedar kabar musibah bangunan tua. Kejadian ini membuka kembali diskusi tentang bagaimana masyarakat memandang rumah warisan, khususnya yang usianya telah melampaui satu abad. Di balik nilai sejarah dan kenangan yang melekat, terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan bangunan tersebut tetap aman dihuni.

    Rumah tua sering kali dianggap kuat karena telah “bertahan” puluhan tahun. Padahal, usia justru menjadi faktor utama yang membuat struktur bangunan rentan. Kayu lapuk, fondasi melemah, serta material yang tak lagi sesuai dengan standar keselamatan masa kini kerap diabaikan hingga akhirnya runtuh tanpa peringatan jelas.

    Penyesalan yang diungkapkan Diding Boneng seharusnya tidak dilihat sebagai kesalahan personal semata, melainkan potret umum dari sikap banyak pemilik rumah tua. Perawatan bangunan sering dikalahkan oleh kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak. Padahal, mengabaikan perawatan berarti mempertaruhkan keselamatan orang-orang di dalamnya.

    Kejadian anak Diding Boneng yang nyaris tertimpa reruntuhan menjadi pengingat keras bahwa bahaya bangunan tua bersifat nyata dan bisa berujung tragedi. Fakta bahwa tidak ada korban jiwa patut disyukuri, namun bukan alasan untuk menganggap peristiwa ini sebagai insiden ringan. Satu detik keterlambatan bisa mengubah cerita menjadi duka mendalam.

    Di kota-kota besar seperti Jakarta, banyak rumah tua berdiri di tengah kepadatan permukiman. Kondisi ini membuat risiko semakin besar, bukan hanya bagi penghuni rumah, tetapi juga warga sekitar. Pemeriksaan bangunan secara berkala seharusnya menjadi budaya, bukan tindakan darurat setelah musibah terjadi.

    Pemerintah daerah juga memiliki peran dalam mengantisipasi kejadian serupa. Pendataan bangunan tua, sosialisasi keselamatan, hingga bantuan renovasi bagi warga kurang mampu bisa menjadi langkah preventif. Tanpa intervensi kebijakan, persoalan rumah tua akan terus berulang sebagai tragedi yang “tak terhindarkan”.

    Namun di balik musibah ini, sikap gotong royong warga sekitar patut diapresiasi. Bantuan yang datang secara spontan menunjukkan bahwa nilai kebersamaan masih mengakar kuat, bahkan di lingkungan perkotaan yang sering dicap individualistis. Solidaritas semacam ini menjadi penopang moral bagi keluarga yang terdampak.

    Gotong royong tersebut juga menjadi refleksi bahwa persoalan hunian bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab sosial. Keselamatan satu keluarga berkaitan erat dengan keselamatan lingkungan sekitarnya. Ketika satu rumah roboh, dampaknya bisa menjalar ke banyak pihak.

    Peristiwa ini seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi masyarakat. Rumah bukan sekedar tempat berteduh, tetapi ruang aman yang melindungi kehidupan. Merawatnya adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang tercinta.

    Robohnya rumah Diding Boneng adalah pengingat bahwa waktu tidak hanya menggerogoti usia manusia, tetapi juga bangunan yang mereka tinggali. Menghargai warisan tidak cukup dengan menjaganya tetap berdiri, melainkan memastikan ia aman dan layak dihuni. Tanpa itu, warisan justru bisa berubah menjadi ancaman.

    Komentar

    Tampilkan