-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Buku dan Pulpen yang Terlalu Mahal bagi Sebuah Masa Kecil

    Bhumi Literasi
    Tuesday, February 3, 2026, February 03, 2026 WIB Last Updated 2026-02-04T04:21:10Z

     


    Kabar meninggalnya seorang siswa kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengguncang nurani publik. Bukan semata karena usianya yang masih belia, tetapi karena pemicu tragedi ini begitu sederhana sekaligus memilukan: ketiadaan buku tulis dan pulpen. Di titik ini, kita dipaksa bertanya dengan jujur, ke mana sebenarnya negara, masyarakat, dan kita semua ketika kebutuhan paling dasar pendidikan anak masih menjadi barang mewah?

    Peristiwa ini bukan sekedar kisah duka sebuah keluarga, melainkan potret buram ketimpangan sosial yang masih menganga. Ketika seorang anak memendam kecewa karena tak sanggup memiliki alat tulis, itu menandakan ada kegagalan kolektif. Pendidikan yang sering kita agungkan sebagai jalan keluar kemiskinan justru terhenti di pintu masuknya: alat belajar paling sederhana.

    Banyak orang dewasa mungkin menganggap buku dan pulpen sebagai hal sepele. Namun bagi seorang anak, terutama yang hidup dalam keterbatasan, benda-benda itu adalah simbol harapan. Ia ingin belajar, ingin setara dengan teman-temannya, ingin diakui sebagai murid. Ketika harapan kecil itu pupus, beban psikologisnya bisa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

    Kisah ini juga mengingatkan bahwa kemiskinan tidak hanya berdampak pada perut yang lapar, tetapi juga pada kesehatan mental, bahkan pada anak-anak. Tekanan hidup, keterpisahan orang tua, dan kondisi ekonomi yang berat menciptakan ruang sunyi yang sering luput dari perhatian. Anak-anak, yang seharusnya dilindungi, justru belajar terlalu cepat tentang kerasnya dunia.

    Sekolah, dalam hal ini, tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik. Ia harus menjadi ruang aman, tempat guru peka terhadap perubahan perilaku siswa, dan tempat masalah sosial bisa terdeteksi lebih dini. Ketika seorang anak tidak membawa buku atau alat tulis, seharusnya itu menjadi alarm empati, bukan sekedar catatan pelanggaran.

    Negara pun perlu bercermin. Program bantuan pendidikan memang ada, tetapi peristiwa ini menunjukkan bahwa distribusi dan pengawasan masih belum menyentuh semua yang membutuhkan. Bantuan yang terlambat, tidak tepat sasaran, atau terhenti di meja birokrasi, pada akhirnya kehilangan maknanya di hadapan nyawa seorang anak.

    Masyarakat sekitar juga memegang peran. Budaya gotong royong yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa seharusnya hidup dalam praktik nyata. Satu buku tulis dan satu pulpen mungkin tak berarti besar bagi sebagian orang, tetapi bisa menjadi penopang semangat hidup bagi anak lain.

    Media dan publik perlu berhati-hati agar tidak berhenti pada sensasi duka. Lebih penting dari sekedar berbagi kabar adalah mendorong perubahan. Tragedi ini harus menjadi titik balik untuk membicarakan kemiskinan struktural, kesehatan mental anak, dan akses pendidikan secara lebih serius dan berkelanjutan.

    Kita juga perlu belajar mendengarkan anak-anak. Suara mereka sering dianggap kecil, padahal di sanalah kejujuran paling murni berada. Ketika seorang anak meminta buku dan pulpen, itu bukan tuntutan berlebihan, itu adalah hak dasar yang seharusnya dijamin.

    Tragedi di Ngada adalah tamparan keras bagi kita semua. Jangan sampai ada lagi anak Indonesia yang merasa hidupnya terlalu berat hanya karena tak mampu membeli alat tulis. Jika pendidikan adalah cita-cita bangsa, maka memastikan setiap anak memegang buku dan pulpen adalah langkah paling awal, dan paling mendasar, yang tak boleh gagal.

    Komentar

    Tampilkan