Kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng, yang akrab disapa Eyang Meri, bukan sekedar kabar duka, melainkan momen refleksi bagi bangsa ini. Dimakamkan dekat pusara sang suami, Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, di TPU Giri Tama Tajur Halang, Bogor, Rabu (4/2), seolah menegaskan kembali kisah hidup yang sejak awal hingga akhir dijalani dalam satu tarikan napas kesetiaan.
Eyang Meri wafat pada usia 100 tahun, usia yang bukan hanya panjang secara biologis, tetapi juga sarat makna historis. Ia menyaksikan pergantian zaman, rezim, dan wajah penegakan hukum di negeri ini. Dalam diam, ia menjadi saksi hidup perjalanan seorang polisi jujur yang namanya kini menjelma simbol integritas: Hoegeng Iman Santoso.
Pernyataan keluarga bahwa almarhumah wafat bukan karena penyakit, melainkan karena faktor usia, terasa menenangkan sekaligus mengharukan. Seolah hidup Eyang Meri ditutup secara utuh, tanpa drama, tanpa tragedi, seperti cara ia menjalani hidup: bersahaja, tenang, dan jauh dari sorotan berlebihan.
Pemakaman yang dilakukan sebelum zuhur, dengan kehadiran jajaran pejabat kepolisian dan karangan bunga dari berbagai tokoh Polri, menunjukkan satu hal: negara tidak melupakan. Meski Hoegeng telah lama wafat, nilai-nilai yang ia dan istrinya rawat bersama masih dikenang dan dihormati.
Namun, Eyang Meri bukan sekedar “istri dari Hoegeng”. Ia adalah pribadi utuh dengan kisahnya sendiri. Lahir di Yogyakarta pada 23 Juni 1925 dari keluarga terpelajar, Meri tumbuh dalam lingkungan yang memadukan disiplin, seni, dan pemikiran terbuka, sesuatu yang kelak tampak dalam pilihan hidupnya.
Pernikahannya dengan Hoegeng pada tahun 1946 bukan hanya ikatan suami-istri, tetapi persekutuan nilai. Ketika Hoegeng dikenal keras pada prinsip dan menolak kompromi dengan ketidakjujuran, Eyang Meri hadir sebagai penopang moral, memastikan rumah tangga tetap hangat meski kehidupan sering berjalan sederhana.
Menariknya, selepas masa dinas Hoegeng, pasangan ini justru mengekspresikan diri melalui musik. The Hawaiian Singers bukan sekedar kelompok musik hiburan, melainkan simbol bahwa hidup berintegritas tidak harus kaku. Ada ruang untuk seni, tawa, dan kebahagiaan yang jujur.
Disemayamkannya jenazah Eyang Meri di rumah duka Pesona Khayangan, Depok, yang dipenuhi karangan bunga pejabat, menghadirkan kontras yang kuat. Di satu sisi, ada penghormatan institusional; di sisi lain, ada kesederhanaan pribadi yang selama ini melekat pada keluarga Hoegeng.
Dimakamkan di dekat pusara Hoegeng terasa seperti penutup bab yang sempurna. Dua insan yang sepanjang hidupnya berjalan berdampingan, kini kembali berdampingan dalam keabadian. Tidak megah, tidak berlebihan, tetapi penuh makna.
Kepergian Eyang Meri seharusnya tidak berhenti sebagai berita duka. Ia adalah pengingat bahwa integritas sering kali lahir dari rumah, dari pasangan hidup, dari sosok-sosok yang bekerja dalam senyap. Di tengah kegaduhan zaman, kisah Eyang Meri mengajarkan kita bahwa keteladanan paling kuat justru sering datang tanpa suara.


