Tulungagung – Bhumi Literasi Anak Bangsa melalui DPC Tulungagung menggelar acara “Ngobrol Bareng Spesial Ramadan” dengan tema Problematika Guru dalam Menulis Karya Tulis Ilmiah dan Literasi: Sejauh Mana AI Membantu?. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas guru dalam menghadapi tantangan penulisan karya tulis ilmiah (KTI) di era digital.
Acara yang berlangsung pada Senin, 23 Februari 2026 tersebut menghadirkan Rizky Arief Shobirin, M.Si., Ketua DPC Tulungagung Bhumi Literasi Anak Bangsa sekaligus dosen TKIM UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Ferani Alifia Yuni Giharta, Sekretaris Umum Dewan Mahasiswa FTIK UIN SATU, dengan suasana interaktif dan penuh antusiasme peserta.
Dalam pemaparannya, Rizky menegaskan bahwa era Revolusi Industri 4.0 menuju Society 5.0 menuntut guru memiliki kompetensi berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dinilai relevan untuk pembelajaran abad ke-21 sekaligus dapat dijadikan kerangka dalam penyusunan KTI berbasis inovasi pembelajaran.
Namun demikian, ia mengungkapkan masih rendahnya penguasaan STEM di kalangan guru, khususnya tingkat sekolah dasar. KTI kerap dipersepsikan sebagai beban administratif, bukan sebagai sarana refleksi profesional. Padahal, potensi dan praktik baik yang dimiliki guru sangat besar, hanya saja belum terdokumentasikan secara ilmiah.
Materi yang disampaikan mencakup pentingnya KTI sebagai indikator profesionalisme dan pengembangan karier guru. Penulisan KTI berbasis STEM dipandang mampu memperkuat kompetensi sekaligus menumbuhkan budaya literasi akademik di lingkungan sekolah. Guru diajak memahami struktur ilmiah mulai dari pendahuluan, metodologi, hasil dan pembahasan, hingga kesimpulan.
Pada sesi teknis, peserta diberikan strategi penyusunan judul yang informatif, penentuan topik berbasis masalah pembelajaran, hingga perumusan metodologi dan dampak penelitian. Workshop ini juga menekankan pentingnya konsistensi antara rumusan masalah, pendekatan ilmiah, dan analisis data yang digunakan.
Topik yang paling menarik perhatian peserta adalah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam penulisan KTI. Rizky menjelaskan bahwa AI seperti ChatGPT dan Perplexity.ai dapat dimanfaatkan untuk membantu penguatan ide, penyusunan struktur logika tulisan, serta perbaikan tata bahasa ilmiah. Namun, AI bukanlah pengganti peran penulis, melainkan alat bantu yang harus digunakan secara bijak dan etis.
Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan berbagai perangkat pendukung seperti Google Scholar untuk literatur, Mendeley dan Zotero untuk manajemen sitasi, serta aplikasi analisis data seperti SPSS dan Excel. Penekanan diberikan pada pentingnya verifikasi referensi dan menghindari ketergantungan penuh pada AI guna mencegah kesalahan akademik dan potensi plagiarisme.
Hasil pemetaan awal menunjukkan kemampuan guru SD dan SMP di Tulungagung dalam menulis KTI berbasis STEM berada pada kategori cukup, dengan rerata 3,47. Meski memiliki dasar pengetahuan, masih terdapat kelemahan pada aspek perumusan judul STEM, metodologi, analisis data, dan desain penelitian. Rendahnya rasa percaya diri dan keterbatasan waktu juga menjadi tantangan tersendiri.
Melalui pendampingan bertahap yang mencakup workshop, bimbingan luring-daring, presentasi karya, dan refleksi evaluatif, terjadi peningkatan signifikan pada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan guru. Peserta memberikan respons sangat positif, terutama saat memasuki sesi aplikatif yang langsung menyentuh praktik penulisan.
Sebagai tindak lanjut, Bhumi Literasi Anak Bangsa Tulungagung merekomendasikan model pendampingan berkelanjutan berbasis praktik, penguatan dukungan institusi sekolah, pembentukan komunitas praktisi literasi ilmiah, serta pemanfaatan AI secara terarah dan etis. Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya menulis ilmiah di kalangan guru semakin tumbuh, sehingga inovasi pembelajaran tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga terdokumentasi dan memberi kontribusi bagi dunia pendidikan yang lebih luas.

