Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Setiap tahun, ribuan sarjana lulus dari berbagai perguruan tinggi terbaik, inovator muda bermunculan, dan anak-anak bangsa menorehkan prestasi di tingkat internasional. Namun, satu pertanyaan mendasar perlu kita renungkan bersama: apakah kepintaran saja cukup untuk membangun Indonesia? Jawabannya tegas, tidak. Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang cinta Indonesia.
Kepintaran tanpa rasa memiliki terhadap bangsa bisa melahirkan individu yang hebat secara personal, tetapi belum tentu berdampak bagi negeri. Ilmu yang tinggi bisa saja hanya menjadi alat untuk mengejar keuntungan pribadi, bahkan dalam kondisi ekstrem, dapat disalahgunakan untuk kepentingan yang merugikan masyarakat. Di sinilah pentingnya nilai kebangsaan sebagai fondasi moral dalam menggunakan kecerdasan.
Sejarah bangsa menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak diraih semata-mata oleh orang pintar, tetapi oleh mereka yang mencintai tanah airnya. Para pendiri bangsa seperti Soekarno dan Mohammad Hatta adalah sosok intelektual yang cerdas, tetapi kecintaan mereka terhadap Indonesia-lah yang membuat ilmu dan gagasan mereka bermakna. Mereka tidak sekedar berpikir untuk diri sendiri, melainkan untuk masa depan bangsa.
Di era globalisasi, tantangan yang dihadapi Indonesia semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat, persaingan ekonomi yang ketat, serta pengaruh budaya luar yang masif menuntut generasi muda untuk memiliki daya saing tinggi. Namun daya saing itu harus dibarengi dengan identitas kebangsaan yang kuat. Tanpa cinta Indonesia, generasi cerdas bisa saja lebih memilih berkontribusi sepenuhnya untuk negara lain.
Cinta Indonesia bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Justru sebaliknya, cinta Indonesia berarti mempersiapkan diri sebaik mungkin agar mampu membawa nama bangsa ke kancah global. Anak-anak muda yang pintar di bidang teknologi, ekonomi, dan pendidikan harus memiliki orientasi pengabdian. Mereka perlu bertanya, “Apa yang bisa saya berikan untuk Indonesia?”
Pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk generasi cerdas sekaligus nasionalis. Sekolah dan kampus tidak cukup hanya mengajarkan teori dan keterampilan teknis. Nilai karakter, integritas, semangat gotong royong, dan wawasan kebangsaan harus ditanamkan sejak dini. Kurikulum yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan moral akan melahirkan pemimpin masa depan yang utuh.
Lebih dari itu, keluarga juga menjadi fondasi utama. Anak yang tumbuh dengan cerita tentang perjuangan bangsa, dengan teladan orang tua yang jujur dan berintegritas, akan lebih mudah menumbuhkan rasa bangga terhadap Indonesia. Rasa bangga inilah yang kelak menjadi bahan bakar pengabdian ketika ia dewasa dan memiliki kapasitas intelektual yang tinggi.
Indonesia membutuhkan ilmuwan yang tidak hanya mengejar publikasi internasional, tetapi juga memikirkan solusi bagi masalah rakyat. Indonesia membutuhkan pengusaha yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga membuka lapangan kerja dan membangun daerah. Indonesia membutuhkan prajurit yang tidak hanya terlatih secara profesional, tetapi juga memiliki loyalitas kepada bangsa dan negara.
Ketika kepintaran dan cinta Indonesia berjalan beriringan, lahirlah generasi emas yang bukan hanya kompeten, tetapi juga berkarakter. Generasi inilah yang akan menjaga kedaulatan, memperkuat persatuan, serta mendorong kemajuan di berbagai bidang. Mereka tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat karena memiliki kompas moral yang jelas: Indonesia di atas segalanya.
Membangun Indonesia bukan hanya soal meningkatkan angka indeks pembangunan atau pertumbuhan ekonomi. Membangun Indonesia adalah tentang membangun manusia Indonesia seutuhnya, cerdas pikirannya, kuat karakternya, dan dalam cintanya kepada tanah air. Karena pada akhirnya, pintar saja tidak cukup. Indonesia membutuhkan generasi yang pintar dan cinta Indonesia.
Penulis: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)
Editor: Bid. Media dan Publikasi

.jpg)
