Keluarga Asuh Pasopati menjadi wadah kebersamaan yang menghimpun Perwira Karier (Pakar) TNI yang lahir pada bulan Februari. Kehadiran paguyuban ini bertujuan mempererat tali silaturahmi, memperkuat solidaritas, serta membangun jejaring kekeluargaan yang kokoh di antara para perwira yang memiliki kesamaan momentum kelahiran sekaligus semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.
Pembentukan Keluarga Asuh Pasopati dilandasi semangat kebersamaan dan jiwa korsa yang kuat di lingkungan perwira TNI. Melalui wadah ini, para anggota diharapkan dapat terus menjaga hubungan persaudaraan yang harmonis, sekaligus menciptakan ruang komunikasi yang produktif dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas kedinasan.
Selain sebagai sarana silaturahmi, Keluarga Asuh Pasopati juga berperan sebagai forum berbagi pengalaman, diskusi profesional, serta saling memberikan dukungan moral di antara sesama perwira. Interaksi yang terbangun diharapkan mampu memperkuat sinergi serta meningkatkan kualitas kepemimpinan dan profesionalisme anggota di berbagai satuan.
Nilai-nilai disiplin, loyalitas, integritas, dan kebersamaan menjadi fondasi utama dalam setiap kegiatan Keluarga Asuh Pasopati. Semangat tersebut sejalan dengan karakter prajurit TNI yang menjunjung tinggi kehormatan, tanggung jawab, serta pengabdian tanpa pamrih kepada negara.
Berdasarkan data pembaruan per 2 Februari 2026, Keluarga Asuh Pasopati mencatat sebanyak 145 anggota yang tersebar pada berbagai tanggal kelahiran sepanjang bulan Februari. Daftar tersebut mencakup perwira dari berbagai latar belakang satuan, angkatan, dan wilayah penugasan yang berbeda.
Beberapa anggota yang tercatat antara lain Soni Madya Y., Marjames Pakpahan, Bambang Hermawan, Dadang Setia, Joko Prihantoro, Yohanes Wain, Suparman, Yudha Prastyono, Rachmanto Iwan, Nasuhi Jarot, Indah Triayu Irianti, Kadir Tangdiesak, Riduwan, Dwi Ari Purwanto, Abraham Valent Wibisono, Ferry Budi Styanti, Muliani, Ari Dwi Santoso, Bagus Wardiman, hingga Rizal Mutaqin dan sejumlah nama lainnya yang tersebar di berbagai tanggal kelahiran Februari.
Keberagaman latar belakang pengalaman dinas para anggota justru menjadi kekuatan utama paguyuban ini. Melalui diskusi rutin maupun kegiatan kebersamaan lainnya, para anggota dapat saling bertukar wawasan, memperluas jaringan profesional, serta membangun kerja sama yang lebih erat.
Keluarga Asuh Pasopati juga diharapkan dapat menjadi sarana pembinaan moral dan semangat kebersamaan, terutama bagi perwira yang sedang bertugas di berbagai wilayah Indonesia. Dukungan sosial dan kekeluargaan yang kuat diyakini mampu meningkatkan motivasi serta ketahanan mental dalam menjalankan tugas negara.
Ke depan, paguyuban ini berencana mengembangkan berbagai kegiatan yang bersifat edukatif, sosial, dan kebersamaan, baik dalam bentuk pertemuan informal, kegiatan olahraga, maupun forum diskusi profesional yang bermanfaat bagi peningkatan kapasitas anggota.
Dengan semangat persatuan dan kekeluargaan yang terus dijaga, Keluarga Asuh Pasopati diharapkan menjadi simbol soliditas Perwira Karier TNI kelahiran Februari, sekaligus menjadi contoh nyata bahwa kebersamaan yang kuat dapat memperkuat profesionalisme dan pengabdian prajurit kepada bangsa dan negara.
Sumber


