Sosok Kapten Prasetyo mulai menarik perhatian publik setelah kiprahnya tidak hanya sebagai perwira TNI AD, tetapi juga sebagai pegiat literasi nasional. Perwira berpangkat Kapten tersebut saat ini menjabat sebagai Komandan Subdenpom Fakfak dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial, khususnya di bidang literasi.
Selain menjalankan tugas militernya, Kapten Prasetyo juga dikenal sebagai Sekretaris Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa. Perannya di organisasi tersebut menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat, terutama generasi muda.
Ketertarikannya pada dunia literasi bukanlah hal baru. Sejak awal penugasannya di Fakfak pada tahun 2024, Kapten Prasetyo mulai mengamati kehidupan sosial, budaya, dan keberagaman masyarakat setempat. Ia melihat Fakfak sebagai daerah yang kaya akan nilai budaya yang layak untuk didokumentasikan.
Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi sumber inspirasi baginya. Berbagai tradisi, cerita lokal, hingga nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakat Fakfak memberikan kesan mendalam yang kemudian mendorongnya untuk menuliskannya dalam bentuk karya.
Ide untuk menulis buku pun mulai muncul seiring waktu. Kapten Prasetyo merasa penting untuk mengabadikan pengamatannya agar dapat menjadi referensi dan bahan pembelajaran bagi masyarakat luas tentang keunikan Fakfak.
Proses penulisan buku tersebut dilakukan di sela-sela kesibukannya sebagai perwira TNI AD. Meski memiliki tanggung jawab yang besar dalam tugas kedinasan, ia tetap menyempatkan waktu untuk menulis dan menyusun gagasannya secara sistematis.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pada bulan Maret 2026, Kapten Prasetyo berhasil menerbitkan buku pertamanya. Buku tersebut diberi judul "Mozaik Budaya Fakfak", yang menggambarkan keberagaman budaya dan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat.
Buku "Mozaik Budaya Fakfak" tidak hanya berisi deskripsi budaya, tetapi juga refleksi pemikiran penulis tentang pentingnya menjaga keberagaman dan memperkuat persatuan. Karya ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam memperkaya literasi tentang Papua Barat, khususnya Fakfak.
Kehadiran Kapten Prasetyo sebagai perwira TNI AD yang aktif menulis juga menjadi inspirasi tersendiri. Ia menunjukkan bahwa tugas sebagai prajurit tidak menghalangi seseorang untuk berkarya dan berkontribusi dalam bidang pendidikan serta literasi nasional.
Melalui karya perdananya, Kapten Prasetyo berharap masyarakat semakin mengenal Fakfak dari sudut pandang budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. Ia juga berharap buku ini dapat mendorong lahirnya penulis-penulis baru yang turut mengangkat potensi daerah melalui literasi.


