BEKASI — Garuda Tactical Defence (GTD) kembali menunjukkan keseriusannya dalam membangun sistem pelatihan yang terstruktur dan profesional melalui pertemuan rutin yang digelar pada Minggu, 26 April 2025. Kegiatan ini berlangsung di Kopinako Sumarecon Bekasi dan dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan inti organisasi.
Pertemuan strategis tersebut dihadiri oleh Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, Ketua Bidang Pelatihan dan Kurikulum, serta pelatih utama GTD. Kehadiran para pemangku kebijakan ini menandakan bahwa agenda yang dibahas bukan sekedar rutinitas, melainkan langkah konkret menuju penguatan sistem organisasi.
Dalam forum tersebut, salah satu poin utama yang menjadi fokus pembahasan adalah perencanaan rancangan Buku Dasar Latihan. Buku ini dirancang untuk menjadi pedoman resmi bagi dua segmen pelatihan, yakni kelas umum dan kelas militer, yang selama ini berjalan dengan pendekatan berbeda.
Ketum GTD menegaskan bahwa penyusunan buku ini bukan hanya soal dokumentasi materi, tetapi juga sebagai upaya standarisasi metode latihan. Hal ini penting untuk memastikan setiap peserta, baik dari kalangan sipil maupun militer, mendapatkan kualitas pelatihan yang konsisten dan terukur.
Sementara itu, Kabid Pelatihan dan Kurikulum menyampaikan bahwa buku tersebut akan memuat berbagai aspek fundamental, mulai dari teknik dasar, filosofi latihan, hingga standar evaluasi. Dengan demikian, GTD berharap dapat menciptakan sistem pembelajaran yang lebih sistematis dan berkelanjutan.
Di sisi lain, pertemuan ini juga menjadi momentum untuk menyamakan persepsi antar pimpinan terkait tujuan utama organisasi. Diskusi berlangsung dinamis, terutama dalam merumuskan arah kebijakan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing jabatan struktural.
Waketum GTD menekankan pentingnya sinergi internal agar setiap program yang dijalankan tidak berjalan parsial. Menurutnya, keselarasan visi antar pimpinan menjadi kunci dalam menjaga konsistensi gerak organisasi di tengah tantangan yang semakin kompleks.
Pelatih utama GTD turut memberikan pandangan dari sisi teknis lapangan. Ia menyoroti perlunya integrasi antara konsep yang dirancang di tingkat manajerial dengan implementasi nyata di lapangan, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktik.
Pertemuan ini juga mencerminkan komitmen GTD dalam meningkatkan profesionalisme, tidak hanya sebagai komunitas latihan, tetapi sebagai organisasi yang memiliki standar dan arah yang jelas. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat posisi GTD di tengah berkembangnya berbagai organisasi pelatihan sejenis.
Dengan hasil diskusi yang konstruktif, GTD optimistis bahwa penyusunan Buku Dasar Latihan serta penyamaan persepsi organisasi akan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan program ke depan. Pertemuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa GTD tidak hanya bergerak, tetapi juga terus berbenah menuju sistem yang lebih matang dan terarah.


