Momentum Halal Bihalal Pengurus Bhumi Literasi Anak Bangsa yang dilaksanakan pada Jumat, 3 April 2026 pukul 20.00–22.30 WIB menghadirkan banyak gagasan menarik. Salah satu yang cukup menggugah perhatian datang dari Ketua DPC Tulungagung, Mas Arief Sobirin, yang mengangkat perbincangan sederhana namun penuh makna tentang kopi arabica dan robusta. Dari diskusi santai tersebut, muncul refleksi bahwa pilihan kopi ternyata dapat menggambarkan cara pandang seseorang terhadap rasa, kualitas, bahkan filosofi hidup.
Pertanyaan yang muncul cukup sederhana namun relevan: mengapa banyak orang lebih menyukai kopi arabica dibanding robusta? Padahal, dari sisi kandungan tertentu, robusta disebut memiliki komponen yang lebih tinggi, termasuk kafein yang lebih kuat. Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas tidak selalu sejalan dengan nilai yang sebenarnya terkandung di dalamnya. Banyak orang mengikuti tren tanpa memahami esensi.
Arabica dikenal memiliki rasa yang lebih asam, aroma lebih kompleks, dan sering diasosiasikan dengan kopi premium. Tidak heran jika kedai kopi modern lebih sering menonjolkan jenis ini. Branding, kemasan, dan citra “kopi kelas atas” turut memengaruhi selera publik. Namun, di balik itu semua, robusta tetap hadir sebagai kopi yang kuat, tegas, dan memiliki karakter pahit yang khas.
Robusta sering dianggap sebagai kopi “kelas bawah” hanya karena rasanya lebih pahit dan kurang kompleks. Padahal, pahit bukan berarti buruk. Justru dari kepahitan itulah muncul sensasi yang jujur dan autentik. Seperti kehidupan, tidak semua hal harus manis untuk dinikmati. Ada kalanya pahit menjadi pengalaman yang memperkaya rasa dan memperkuat karakter.
Menurut pandangan pribadi, kopi yang paling nikmat justru robusta tanpa gula. Sensasi pahitnya terasa lebih murni, tidak tertutup oleh rasa manis tambahan. Saat diminum perlahan, pahit tersebut berubah menjadi kenikmatan tersendiri. Lidah diajak untuk memahami rasa asli, bukan rasa yang dimodifikasi. Ini seperti menikmati hidup apa adanya.
Menambahkan gula pada kopi memang membuatnya lebih mudah diterima oleh banyak orang. Namun, ketika terlalu banyak gula, esensi kopi itu sendiri menjadi hilang. Rasa kopi tertutup oleh manis yang dominan. Bahkan, muncul anggapan bahwa jika kopi sudah terlalu manis, maka ia lebih mendekati sirup daripada kopi. Pernyataan ini mungkin sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam.
Fenomena ini juga dapat menjadi metafora sosial. Banyak orang lebih memilih sesuatu yang tampak menarik di permukaan, seperti arabica yang populer. Sementara robusta yang sederhana dan kuat justru kurang mendapat perhatian. Padahal, nilai sesungguhnya sering tersembunyi pada hal-hal yang tidak terlalu dipromosikan.
Diskusi tentang kopi dalam forum Halal Bihalal tersebut membuktikan bahwa literasi bisa lahir dari hal-hal sederhana. Dari secangkir kopi, muncul refleksi tentang pilihan, tren, dan keaslian. Inilah kekuatan dialog: ide kecil dapat berkembang menjadi pemikiran yang lebih luas. Bahkan, kopi pun bisa menjadi bahan tulisan opini yang bermakna.
Robusta tanpa gula mengajarkan tentang kejujuran rasa. Tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada yang dimanipulasi. Pahitnya jelas, aromanya tegas, dan efeknya terasa. Filosofi ini relevan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa keaslian seringkali lebih bernilai daripada kemasan yang menarik.
Pilihan antara arabica dan robusta adalah soal selera. Namun, refleksi di baliknya membuka ruang pemikiran bahwa popularitas tidak selalu berarti lebih baik. Kadang, yang sederhana justru lebih kaya makna. Seperti robusta tanpa gula: pahit, tetapi nikmat. Dan mungkin, di situlah letak keindahan rasa yang sesungguhnya.
Penulis: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketua Umum)


