-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Krisis Selat Hormuz: Sebuah Pelajaran Bagi Indonesia di Bidang Ketahanan Energi, Diplomasi dan Militer

    Bhumi Literasi
    Friday, April 3, 2026, April 03, 2026 WIB Last Updated 2026-04-03T23:46:18Z

     


    Krisis di Selat Hormuz merupakan dampak utama yang ditimbulkan akibat perang antara Israel-AS melawan Iran. Bisa dikatakan kali ini AS mengambil langkah yang salah karena serangan ke Iran menimbulkan dampak secara global terutama di bidang ekonomi dan energi. Alih-alih menyerah, Iran justru melakukan serangan balasan dengan  menyerang wilayah Israel serta beberapa pangkalan AS di Timur Tengah seperti di Arab Saudi, UEA, Qatar, Bahrain, dan Irak. Selain menyerang pangkalan militer, Iran juga menyerang fasilitas penyulingan minyak di beberapa negara Timur Tengah (Al Jazeera, 2026). Selain itu, Iran juga membalas serangan yang dilakukan oleh AS-Israel dengan menutup Selat Hormuz serta menyerang beberapa kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz (Reuters, 2026). 

    Aksi serangan balas Iran tersebut selain menyebabkan kehancuran di beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah juga mengakibatkan suplai minyak di seluruh dunia terganggu. Terganggunya suplai minyak tersebut memberikan pukulan telak terhadap perekonomian dan ketersediaan energi dunia. Beberapa negara yang terdampak secara signifikan akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran contohnya adalah Cina, Jepang dan India (Lee, 2026). Indonesia juga termasuk salah satu negara di dunia yang kemungkinan akan mengalami krisis energi akibat adanya penutupan Selat Hormuz oleh Iran meskipun Indonesia saat ini telah memutuskan untuk mengalihkan impor minyak dari Timur Tengah ke negara lain seperti AS. 

    Walaupun hingga bulan Maret 2026 stok bbm di Indonesia masih terbilang aman, akan tetapi kemungkinan  adanya krisis atau kenaikan harga bbm tetap harus diwaspadai terlebih cadangan minyak Indonesia hanya mampu bertahan hingga 20 hari (Bahagia, 2026). Dari peristiwa penutupan Selat Hormuz, ada beberapa aspek penting yang harus dijadikan pembelajaran oleh Indonesia terutama di bidang ketahanan energi, diplomasi dan militer. 

    A. Bidang Diplomasi.
    Hingga saat ini Iran diketahui masih menutup Selat Hormuz. Meskipun menutup Selat Hormuz secara sepihak,  Iran masih mengizinkan kapal tanker minyak dari Rusia, Cina, Irak, India, Bangladesh dan Pakistan untuk melewati Selat Hormuz dikarenakan negara-negara tersebut dianggap “berpihak kepada Iran” selama Iran berperang menghadapi AS-Israel (The Standart, 2026). Selama perang tersebut Indonesia pernah mendapatkan pengalaman pahit ketika dua kapal tanker minyak Pertamina ditahan oleh Iran di Selat Hormuz meskipun akhirnya diperbolehkan keluar dari Selat Hormuz oleh Iran. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran sangat penting bagi Indonesia di bidang diplomasi. 

    Diplomasi merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi Indonesia saat ini terutama di tengah situasi geopolitik yang sedang memanas. Politik luar negeri bebas aktif merupakan pilihan yang dinilai sangat tepat untuk diambil Indonesia untuk menghadapi situasi geopolitik yang tidak menentu. Bergabungnya Indonesia dalam BRICS serta BOP (Board Of Peace) merupakan langkah yang tepat untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak memihak ke salah satu blok terlebih PBB saat ini tidak menunjukkan peran penting untuk menghentikan konflik internasional yang sedang terjadi terutama aksi sepihak AS yang menyerang negara berdaulat seperti Venezuela dan Iran.

    Memang bergabungnya Indonesia ke BOP (Board Of Peace) merupakan langkah yang mengundang aksi penolakan dari dalam negeri mengingat di dalam BOP terdapat Israel dan AS yang secara terang-terangan dinilai menghancurkan Gaza, Palestina. Akan tetapi dalam situasi saat ini stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri merupakan aspek yang lebih penting karena jika aspek tersebut diabaikan kemungkinan kedaulatan Indonesia akan terancam mengingat AS di bawah kepemimpinan Presiden Trump secara agresif menyerang negara-negara berdaulat seperti Iran dan Venezuela akibat dinilai menentang kebijakan AS. 

    Satu hal yang harus kita ingat adalah dalam membicarakan diplomasi kita tidak bisa hanya memandang dari satu sisi saja tetapi kita harus melihat dari berbagai aspek terutama aspek keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia yang saat ini rentan akibat memanasnya situasi geopolitik di dunia. 

    B. Bidang Ketahanan Energi.
    Bidang ketahanan energi merupakan bidang yang harus diperhatikan oleh Indonesia saat ini. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi pelajaran sangat berharga bagi kita agar Indonesia semakin mandiri dalam bidang ketahanan energi. Sudah saatnya Indonesia membangun fasilitas cadangan minyak yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia dengan kapasitas lebih dari 20 hari sehingga jika ada krisis stok bbm yang kita miliki tetap dapat menunjang kebutuhan masyarakat Indonesia.
    Selain peningkatan kemampuan dan kemandirian produksi bbm di dalam negeri, Indonesia harus mulai melakukan diversifikasi sumber energi listrik. Karena kebutuhan energi listrik merupakan kebutuhan penting bagi rumah tangga maupun pabrik yang ada di berbagai wilayah di Indonesia. Sehingga melalui pembangunan pembangkit listrik yang bersumber pada energi terbarukan seperti panas bumi, air, angin dan matahari diharapkan menjadi solusi dari kebutuhan energi listrik di Indonesia yang selama ini bergantung pada pembangkit listrik yang bersumber dari batu bara dan minyak bumi.

    C. Bidang Militer.
    Perang AS-Israel dengan Iran memberi pelajaran bagi militer Indonesia khususnya kemandirian produksi alutsista dalam negeri. Kita ketahui bersama AS dan Israel hingga saat ini dapat melancarkan serangan mematikan ke wilayah Iran karena memiliki superioritas udara dan teknologi. Akan tetapi Iran mampu melakukan serangan balasan yang mematikan bahkan menimbulkan efek yang luar biasa terhadap perekonomian global. Kemampuan Iran dalam melakukan serangan balasan tersebut dikarenakan saat ini Iran bisa memproduksi alustsista yang dimilikinya secara mandiri meskipun Iran mendapatkan sanksi embargo dari AS dan negara-negara sekutunya. Kemampuan produksi alutsista dalam negeri diperoleh Iran melalui hubungan diplomasi yang baik dengan Cina, Korut dan Rusia. Berkat adanya hubungan diplomasi yang baik dengan negara-negara tersebut, Iran bisa memproduksi alutsista modern secara mandiri melalui transfer teknologi. Bahkan Iran diketahui mengirimkan drone Shahed untuk membantu Rusia dalam perang Rusia-Ukraina. 

    Selain kemandirian produksi alutsista Iran juga memiliki fasilitas bunker untuk menyimpan drone dan rudal yang dimilikinya. Iran juga memiliki fasilitas produksi alutsista dalam negeri yang tersebar di seluruh wilayah dalam negeri Iran. Sehingga meskipun diserang oleh AS dan Israel hingga saat ini Iran masih dapat memproduksi drone dan rudal serta melancarkan serangan balasan menggunakan pabrik senjata dan fasilitas peluncuran rudal lain di wilayah Iran.

    Kita juga harus mulai memahami bahwa Indonesia memiliki wilayah strategis yang mampu dijadikan tumpuan bagi ketahanan nasional kita yaitu Selat Malaka. Bahkan Selat Malaka merupakan wilayah yang memiliki nilai strategis lebih tinggi daripada Selat Hormuz. Setiap hari ada sekitar 73 juta barel minyak dunia yang diperdagangkan melalui jalur laut. Di dalam perdagangan minyak dunia melalui jalur laut tersebut  sekitar 23,2 juta barel per hari minyak dunia diperdagangkan melalui Selat Malaka. Sementara perdagangan minyak melalui  Selat Hormuz diperkirakan sebesar 20,9 juta barel per hari. Sehingga wajar jika Selat Malaka menjadi jalur laut tersibuk di dunia melebihi Selat Hormuz. 

    Untuk itulah Indonesia harus memahami pentingnya nilai strategis Selat Malaka sehingga pembangunan kota modern yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang serta pangkalan militer yang kuat dinilai sangat perlu untuk dilakukan terutama di kota Batam dan Aceh. Diharapkan dengan adanya pembangunan tersebut Indonesia mampu memperkuat posisinya di dunia internasional serta memperkuat ketahanan ekonomi dan militer di dalam negeri.

    Krisis Selat Hormuz merupakan pembelajaran penting bagi Indonesia. Dari krisis tersebut Indonesia mendapat pelajaran berharga lebih dari kemungkinan kelangkaan dan naiknya harga bbm. Indonesia tidak boleh pasrah terhadap keadaan karena Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam bidang kemandirian ekonomi dan sumber daya alam di dalam negeri. 


    Referensi :

    -    Iran Hits Kuwaiti Oil Refinery As Israel Renews Attacks On Tehran. (2026). Al Jazeera.com. https: https://www.aljazeera.com/news/2026/3/20/kuwait-oil-refinery-hit-again-as-iran-targets-gulf-energy

    -    Six Vessels Attacked In Gulf, Strait Of Hormuz As War Puts Merchant Ships On Front Lines. (2026). Reuters.com. https: https://www.reuters.com/world/cargo-ship-hit-by-projectile-strait-hormuz-crew-evacuates

    -    Lee, Ying Shan. (2026). The Strait Of Hormuz Is Facing A Blockade These Countries Will Be Most Impacted. CNBC.com. https : https://www.cnbc.com/2026/03/03/strait-of-hormuz-closure-which-countries-will-be-hit-the-most.html

    -    Bahagia, Iwan.(2026). Stok Cadangan BBM Nasional Hanya Cukup 20 Hari – 'Sangat Riskan', Kata Pengamat. BBC.com. https : https://www.bbc.com/indonesia/articles

    -    Iran Names Six Countries Whose Ships Can Pass Through Strait Of Hormuz, Mulls US$2 Million Transit Fee. (2026). Thestandart.com. https :www.thestandard.com.hk 


    Penulis: Yuda Ari Setiawan D. P., S. T. Han., M.H.I. (Bidang Humas dan Kerjasama Bhumi Literasi Anak Bangsa)
    Editor: Bid. Media dan Publikasi Bhumi Literasi Anak Bangsa

    Komentar

    Tampilkan