-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Beasiswa LPDP: Alat Menggapai Cita atau Utang Budi Berkedok Investasi Mimpi?

    Bhumi Literasi
    Tuesday, April 28, 2026, April 28, 2026 WIB Last Updated 2026-04-28T23:40:11Z

     


    Anggaran pendidikan merupakan salah satu elemen penting bagi kemajuan suatu bangsa, khususnya bangsa Indonesia, sehingga hal ini membuat Pemerintah Indonesia bersama Dewan Perwakilan Rakyat menyepakati bahwa alokasi anggaran pendidikan kedalam pengembangan dana Pendidikan nasional yang dikelola oleh Badan Layanan Umum (BLU). Beasiswa merupakan investasi publik bagi bangsa ini. Investasi publik diukur dengan satu pertanyaan yang dingin dan rasional. Dalam hal ini Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan yang biasa disebut LPDP merupakan satuan kerja non-eselon yang dikelola dibawah Kementrian Keuangan Republik Indonesia.  Sumber utama dana LPDP berasal dari dana APBN selain itu pula berasal dari beberapa investasi serta Kerjasama CSR dan hibah dari Lembaga internasional. Menurut Yanuar Nugroho yang merupakan Visiting Senior Fellow, mengatakan bahwa beasiswa LPDP merupakan pendanaan beasiswa terbaik yang dapat diberikan oleh negara, dan memiliki tujuan dalam membangun fondasi untuk Indonesia yang lebih maju. 

    Namun, apakah hal tersebut cukup? Dalam praktiknya tidak semudah itu. LPDP membuat aturan persyaratan dalam memilih calon penerima beasiswa, salah satunya adalah adanya perjanjian untuk kembali ke Indonesia setelah masa studi telah habis. Di dalam peraturannya Alumni LPDP Luar negeri wajib kembali dalam 90 hari Kalender pascalulus, dan alumni juga diharuskan berkontribusi dan berada secara fisik di Indonesia sekurang-kurangnya dua kali masa studi. Dalam hal ini apa ukuran dari mengabdi dan kontribusi yang harus diberikan oleh Alumni LPDP untuk bangsa Indonesia? 

    Dalam praktiknya, menurut Direktur Utama LPDP Sudarto, pihak LPDP tidak dapat memfasilitasi pekerjaan bagi alumnus, kapasita lembaga hanya terbatas pada Pembangunan dan penguatan ekosistem.  Walaupun saat ini LPDP sedang berupaya dalam memperbaiki strategi agar alumnus dapat terserap di bidang industru atau menjadi sumber daya unggul (SDM) di negeri nya sendiri. Dengan berkembang pesatnya dunia industri dan riset di Indonesia saat ini LPDP menjaring untuk calon penerima Beasiswa di bidang-bidang yang strategis. 

    Di tahun 2026 ini, LPDP membuat kuota di bidang strategis sebanyak 80 persen di antaranya bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang meliputi diataranya adalah di bidang industri, pangan dan maritim,energi, kesehatan, pertahanan, digitalisasi (termasuk di dalam kecerdasan buatan dan semikonduktor) serta kewirausahaan dan industri kreatif. Dan sisianya, 20 persen dibidang non- STEM atau bidang SHARE (Social, Humaniora, Arts, Religion, and Economic). Dengan adanya penambahan kuota dari tiap masing-masing bidang, secara logika alumni LPDP dapat membidangi di lini industri lapangan pekerjaan di Indonesia. Namun, fakta di lapangan tidaklah demikian. Bahkan, banyak alumni LPDP yang bertahan di luar negeri dan berkerja disana. 

    Seperti kasus viral yang tempo hari mengguncang jagat maya, yang dinyatakan oleh alumni LPDP yang memberikan statement “cukup aku saja yang WNI, anakku jangan” membuat membuka mata dengan fakta yang ada. Bukan karena statement yang menggiring opini bahwa DS (alumnus LPDP) tidak bangga menjadi seorang WNI yang sudah mendapat beasiswa LPDP, namun disini seharusnya menjadikan LPDP lebih merefleksikan dengan peraturan-peraturan yang dibuat kepada para calon penerima beasiswa LPDP.

    Dalam hal ini DS telah melakukan pengabdiannya di periode tahun 2017-2023 dengan giat menginisiasi penanaman 10.000 pohon bakau di sejumlah wilayah pesisir hingga terlibat dalam pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur. Pengabdian apakah yang diinginkan oleh LPDP kepada alumnus nya? Walaupun faktanya, di bidang industri Indonesia yang perlahan memulai maju, alumnus ini bisa untuk mengembangkannya. Tapi apakah mereka diberikan kesempatan? Apakah pemikiran alumnus diterima oleh “mereka” yang terkadang terlalu kaku dalam penetapan aturan? 

    Tidak sedikit alumnus yang mengabdi di luar negeri, bukan karena mereka tidak mencintai negaranya. Tapi dibalik itu apakah negaranya mampu “merangkul” mereka dengan segala pemikiran kritis mereka, yang selama ini mereka bentuk dalam masa studi di luar negeri? Lalu, jika mereka masuk kedalam lingkup industri Indonesia mereka terkadang dianggap seperti tamu di rumahnya sendiri. Bukan karena mereka tidak mampu bersaing, tapi cara berpikir mereka yang kritis dan idealis yang pada akhirnya membuat mereka “tersingkir” di tempat mereka yang seharusnya menjadi rumah untuk mengembangkan segala pemikiran, ide, inovasi yang mereka adaptasikan dari pengalaman mereka di tempat belajar pada saat masa studi, untuk kemajuan negara ini, Indonesia.

    Pada akhirnya kita bisa kembali mengulas contoh kisah B.J Habibie yang bersedia pulang kembali ke Tanah Air karena hal tersebut negara memberikan panggung berupa industri strategis. Walaupun sebelumnya B.J Habibie diragukan mengapa perlu adanya industry pesawat di Indonesia. Tanpa prasarana yang mumpuni, tak mungkin alumnus yang memiliki talenta terbaik di bidang STEM akan terserap oleh industri luar negeri dan jauh lebih dihargai di negeri orang dengan keahlian mereka. Jangan sampai pemerintah hanya menuntut kepulangan dan pengabdian alumnus tapi di Indonesia meraka “mati” secara keilmuan dikarenakan ekosistem dan laboratorium untuk riset tidak mendukung dan memadai. Dengan hal ini, diperlukan adanya koordinasi oleh pemerintah dengan beberpa kementrian untuk menyediakan “labaoratorium” riset alumnus dan sarana yang mumpuni dalam mengembangkan ide-ide mereka. Jangan sampai mutiara yang seharusnya bersinar untuk negeri sendiri menjadi “boomerang” bagi Indonesia dikarenakan gagal menyiapkan tempat bagi mereka di rumah sendiri. 


    Penulis: Irma Putri Farahani, S.Psi. (Kabid Sosial dan Pengabdian Masyarakat DPP Bhumi Literasi Anak Bangsa)

    Komentar

    Tampilkan