Program beasiswa yang dibiayai negara selalu lahir dari visi besar: menyiapkan generasi unggul yang mampu membawa perubahan nyata bagi bangsa. Di Indonesia, LPDP menjadi simbol komitmen tersebut, mengirim putra-putri terbaik ke kampus-kampus dunia dengan harapan mereka kembali sebagai agen transformasi. Ini bukan sekedar investasi pendidikan, melainkan strategi pembangunan jangka panjang.
Namun, di balik idealisme itu, muncul pertanyaan: apakah hasil dari investasi ini benar-benar kembali ke tanah air? Ataukah justru lebih banyak memberi manfaat bagi negara lain tempat para penerima beasiswa berkiprah? Pertanyaan ini tidak bermaksud menyalahkan, melainkan mengajak kita melihat realitas secara jernih.
Tidak dapat dipungkiri, banyak alumni LPDP yang menunjukkan capaian luar biasa. Mereka berkompetisi di tingkat global, bekerja di institusi bergengsi, dan menghasilkan karya yang berdampak luas. Dalam dunia yang semakin tanpa batas, kesempatan seperti ini menjadi ruang aktualisasi yang sulit diabaikan.
Di sisi lain, dana yang digunakan untuk membiayai pendidikan tersebut berasal dari publik. Ada ekspektasi moral bahwa ilmu dan pengalaman yang diperoleh akan kembali untuk memperkuat pembangunan nasional. Pengabdian bukan hanya klausul administratif, tetapi esensi dari kepercayaan yang diberikan negara.
Ketegangan muncul ketika realitas tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan. Ada yang memilih berkarier di luar negeri, ada yang kembali namun tidak optimal berkontribusi, dan ada pula yang masih mencari bentuk pengabdian yang tepat. Fenomena ini kemudian melahirkan narasi “negara bayar, dunia menikmati.”
Namun, persoalan ini tidak sesederhana itu. Dalam konteks globalisasi, kontribusi tidak selalu harus bersifat fisik dan berada di dalam negeri. Banyak diaspora yang justru berperan sebagai jembatan strategis, membuka akses investasi, riset kolaboratif, hingga diplomasi pengetahuan yang menguntungkan Indonesia.
Karena itu, makna pengabdian perlu diperluas. Negara tidak hanya membutuhkan kepulangan, tetapi juga dampak. Sementara itu, penerima beasiswa perlu menyadari bahwa keberhasilan pribadi yang mereka raih memiliki akar pada kepercayaan publik yang harus dijaga.
Negara juga perlu berbenah. Lingkungan kerja, ekosistem riset, dan penghargaan terhadap talenta harus ditingkatkan agar mereka yang kembali memiliki ruang untuk berkembang. Tanpa itu, tuntutan pengabdian akan terasa timpang dan sulit diwujudkan secara optimal.
Pertanyaan “Negara Bayar, Dunia Menikmati?” pada akhirnya bukanlah bentuk kecurigaan, melainkan cermin evaluasi bersama. Ia mengingatkan bahwa kebijakan publik harus terus disesuaikan dengan dinamika zaman, sementara individu harus menjaga komitmen moralnya.
Jika keseimbangan antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab nasional dapat terjaga, maka narasi tersebut tidak lagi menjadi polemik. Sebaliknya, ia akan berubah menjadi kekuatan, bahwa ketika negara berinvestasi pada manusia, manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh dunia, tetapi juga oleh bangsa yang membesarkannya.
Penulis: Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi. (Pgs. Sekretaris Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)


