-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Refleksi Krisis Selat Hormuz: Keadaan yang Menuntun Kemandirian Energi Indonesia

    Bhumi Literasi
    Tuesday, April 14, 2026, April 14, 2026 WIB Last Updated 2026-04-15T02:25:13Z

     


    Berita terkait kecamuk selat hormuz memicu krisis energi berbasis migas di seluruh mancanegara, dengan pertanda lonjakan drastis harga minyak global. Tentunya Indonesia juga terdampak, mengingat negara merah putih masih bergantung pada impor minyak terutama dari Singapura. Apa keadaan ini akan terus berlanjut berkepanjangan? Apakah kita hanya terus berdiam diri dalam menghadapi situasi ini? Situasi ini menegaskan bahwa krisis ini menjadi penanda rapuhnya ketahanan energi nasional Indonesia, sehingga kita perlu memikirkan solusi konstruktif di tengah kericuhan yang destruktif menghancurkan kestabilan minyak global.

    Peperangan ini menjadi petaka tersendiri, karena terjadi di salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, apalagi sebagai salah satu sentra tambang terpenting penyangga keberlanjutan kehidupan. Minyak hasil penambangan tidak selamanya akan terus ada, dan pasti akan habis. Maka dari itu, perlu ada solusi energi alternatif pengganti minyak hasil penambangan, dan semoga saja ini bukan hanya sebagai wacana saja yang belum begitu terlihat wujudnya. Akan lebih bagus kalau kita bahas lebih dalam sebagai renungan kembali, agar kita semakin “melek” literasi potensi sumber daya kita yang begitu melimpah. Tidak hanya pertambangan saja, namun juga hasil pengolahan bahan alam dan berbagai limbahnya.

    Saat ini yang sudah berjalan cukup instens yaitu industri bioethanol, yang mana sering diperoleh dari hasil fermentasi tetes tebu dan singkong. Apakah hanya dari situ saja? Tentunya bahan dasar lain berbasis gula atau pati dapat difermentasi lebih lanjut menjadi bioethanol, seperti sorgum dan jagung. Oh ya, hampir terlupa, beras yang sudah tidak kayak konsumsi, maupun nasi yang hampir atau sudah basi sebenarnya dapat dijadikan sebagai bahan dasar bioethanol, tentunya dengan penyaringan atau filtrasi agar terbebas dari berbagai kontaminan. Namun, bagaimana pun juga tetap perlu uji kelayakan pada mesin yang ada saat ini, karena juga bioethanol murni digunakan dalam jangka waktu lama berpotensi korosi pada mesin, dan pada kasus tertentu dapat membuat mesin overheat. Kita perlu memikirkan kembali solusi implementasi bioethanol sebagai bahan bakar utama terutama modifikasi desain mesin dalam menghadapi ancaman penggunaan bioethanol tersebut. 

    Lalu bagaimana dengan biodiesel? Ini telah diimplementasikan di Indonesia, sebagai contoh biosolar, yang mana salah satunya berbahan baku minyak kelapa sawit. Solusi ini terbukti berdampak positif dalam mengatasi kelangkaan minyak untuk mesin diesel, namun bagaimanapun juga biosolar bukan 100% murni bahan nabati melainkan campuran solar dengan biodiesel. Sebenarnya dalam produksi biodiesel ini tidak selalu bergantung pada ketersediaan minyak kelapa sawit (mengingat minyak sawit juga enak untuk menggoreng makanan), melainkan juga dapat berasal dari limbah minyak jelantah (minyak bekas) dan limbah kelapa sawit dengan pengolahan lebih lanjut. Belum lagi limbah plastik yang menjadi salah satu sumber masalah besar lingkungan dunia saat ini, yang mana sebenarnya ini dapat menjadi salah satu bahan bakar biodiesel potensial. Jika itu terjadi, maka sekali dayung 2 pulau terlampaui, yakni masalah lingkungan terselesaikan dan krisis energi teratasi. Sekali lagi, kendala implementasinya pada uji kelayakan mesin diesel yang sudah ada hingga saat ini, sehingga masih perlu adanya uji coba lebih lanjut dan modifikasi mesin diesel agar dapat kompatibel dengan bahan bakar alternatif biodiesel ini.

    Disamping itu, ada lagi solusi dalam mengatasi kelangkaan gas yang digunakan untuk keperluan memasak, yang mana secara filosofi kita kembali seperti zaman dahulu, yakni menggunakan bahan bakar yang secara fungsi mirip kayu bakar. Biomassa sebagai substituen bahan bakar gas tersebut untuk keperluan memasak. Kita perlu banyak memanfaatkan berbagai media sosial untuk mencari tahu inovasi tersebut, seperti teknologi kompor yang dapat diatur nyala apinya yang berbahan bakar briket. Briket sudah umum diketahui sebagai pengganti arang, yang mana berasal berbagai limbah berbahan padat, seperti limbah pertanian (contoh: sekam padi, tongkol jagung), serat kayu limbah pertukangan, dan lain sebagainya. Hanya saja tingkat kepraktisan penggunaan yang menjadi penghambat masyarakat hingga saat ini.

    Dari bahan pertambangan, logam yang diolah lebih lanjut dengan teknologi konversi energi seperti solar cell sudah banyak digunakan. ini memang sangat prospek untuk daerah beriklim tropis, namun sayang sekali, masih terkendala biaya instalasi dan konversi energi yang rendah. Belum lagi biogas dari tangki hasil pembuangan limbah kotoran ternak dan fermentasi bahan nabati, namun kendala terkait keamanan tangki biogas yang dapat dibilang sangat berisiko, jika tanpa pengendalian dan kontrol intensif.

    Sangat banyak kan potensi Indonesia dalam menuju kemandirian energi? Belum lagi bahan bakar tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik secara mandiri pada mesin genset lho. Namun, sangat disayangkan persoalan utama adalah implementasi teknologi pendukung penggunaan alternatif tersebut. Ya, memang itu tidak gampang. Setidaknya situasi krisis selat hormuz ini menjadi penampar sekaligus penuntun Indonesia agar segera beralih dari ketergantungan minyak alam yang semakin menipis dan menuju energi alternatif yang hampir tiada habisnya, meskipun perlu studi dan uji kelayakan lebih lanjut. Keberanian kita dalam mengimplementasikannya dalam bentuk kebijakan dan rekayasa teknologi pendukung tersebut sedang diuji, agar tidak terus menerus menghadapi situasi krisis energi bertahun-tahun di tengah sumber daya kita yang sebenarnya sangat berlimpah ruah. Krisis selat hormuz sebagai penanda bahwa kebutuhan kita dalam menghadapi krisis energi ini sudah sangat mendesak, semoga ada jalan dan kita mau berjalan menghadapinya dengan segala potensi yang ada, bukan sekedar wacana dan retorika.

    Salam Satu Jiwa! 


    Penulis: Rizky Arief Shobirin, S.Si., M.Si. (Pgs. Wakil Ketua DPW Jawa Timur / Ketua DPC Tulungagung)

    Komentar

    Tampilkan