Setiap kali Timur Tengah memanas, timeline kita ikut panas.
Video perang lewat, analisis dadakan bermunculan, semua orang tiba-tiba jadi pengamat geopolitik.
Kita tahu siapa menyerang siapa.
Kita punya pendapat.
Kita ikut emosi.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang muncul:
“Ini dampaknya ke kita apa, sih?”
Padahal yang lagi dipertaruhkan itu bukan cuma konflik, tapi jalur minyak dunia. Selat Hormuz itu ibarat jalan tol-nya minyak global. Kalau di sana macet atau terganggu, efeknya bukan cuma ke negara-negara besar, tapi juga ke kita—yang tiap hari isi bensin.
Sederhananya begini:
kalau distribusi minyak terganggu → harga minyak dunia naik → biaya impor Indonesia ikut naik → pemerintah pusing → kita juga ikut ngerasain, entah lewat harga BBM atau harga-harga lain yang diam-diam naik.
Masalahnya, obrolan kita jarang sampai situ.
Kita lebih sibuk bahas “siapa benar, siapa salah”, tapi lupa nanya “ini pengaruhnya ke hidupku apa?”
Di sinilah ketahanan informasi sebenarnya diuji.
Bukan soal seberapa cepat kita dapat info, tapi seberapa jauh kita bisa nyambungin info itu ke realitas kita sendiri. Kita ini sering banget tahu potongan cerita, tapi nggak pernah benar-benar lihat gambaran besarnya.
Dan jujur saja, ini bukan salah kita sepenuhnya.
Media sosial memang lebih senang hal yang dramatis daripada yang sistematis. Lebih laku video ledakan daripada penjelasan soal rantai pasok energi.
Tapi kalau kita terus-terusan konsumsi informasi kayak gitu, ya jangan heran kalau setiap ada isu global, reaksi kita selalu sama: kaget, ribut, tapi nggak pernah benar-benar paham.
Buat yang aktif di literasi, ini PR besar.
Literasi hari ini nggak cukup cuma ngajarin orang cek fakta. Itu penting, tapi belum cukup. Kita juga perlu ngajarin orang buat mikir agak panjang: dari konflik global ke dampak lokal.
Karena kalau nggak, kita cuma akan jadi penonton yang berisik.
Komentar ke mana-mana, tapi nggak ngerti sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Padahal, generasi muda Indonesia itu potensinya besar. Cepat nangkap isu, cepat nyebarin informasi. Tinggal satu yang perlu ditambah: kedalaman.
Jadi mungkin, lain kali ada konflik global lewat di timeline, kita bisa mulai dari pertanyaan sederhana:
“Oke, ini bakal ngaruh ke Indonesia gimana?”
Kelihatannya sepele.
Tapi dari situ, kita mulai naik level—dari sekadar tahu, jadi benar-benar paham.
Penulis : Mahendra Bhirawa, S.E, S.H, M.Sc. (Kabid Litbang DPP)


