Banyak orang masih memandang dunia militer sebagai lingkungan yang keras, penuh disiplin fisik, dan jauh dari aktivitas intelektual seperti menulis buku. Maka wajar jika muncul pertanyaan, “Tentara menulis buku? Emang bisa?” Pertanyaan ini bukan hanya skeptis, tetapi juga mencerminkan stereotip lama yang perlu diluruskan.
Padahal, jika kita menengok lebih dalam, dunia militer justru sangat kaya akan pengalaman, nilai, dan pembelajaran hidup yang layak untuk dibagikan. Seorang tentara tidak hanya dilatih untuk kuat secara fisik, tetapi juga tangguh secara mental dan matang dalam mengambil keputusan. Semua itu adalah bahan baku yang sangat bernilai dalam sebuah tulisan.
Menulis bukan soal profesi, melainkan soal kebiasaan. Siapa pun bisa menulis, termasuk tentara, asalkan memiliki kemauan dan konsistensi. Banyak tokoh besar yang berasal dari latar belakang militer mampu menghasilkan karya tulis yang luar biasa karena mereka mampu mengolah pengalaman menjadi refleksi.
Masalah utama bukan pada “bisa atau tidak bisa”, tetapi pada “terbiasa atau tidak terbiasa”. Habit atau kebiasaan menulis tidak terbentuk dalam sehari. Ia membutuhkan proses, latihan, dan komitmen yang berulang. Sama seperti latihan fisik di militer, menulis juga perlu dilatih secara rutin.
Langkah pertama dalam membentuk habit menulis adalah memulai dari hal kecil. Tidak perlu langsung menulis buku tebal. Cukup dengan menulis satu paragraf setiap hari, atau mencatat pengalaman harian yang berkesan. Dari situ, perlahan kemampuan menulis akan berkembang.
Tentara atau siapa pun perlu memiliki alasan kuat untuk menulis. Apakah ingin berbagi pengalaman? Menginspirasi generasi muda? Atau sekedar mendokumentasikan perjalanan hidup? Tujuan yang jelas akan menjadi bahan bakar untuk menjaga konsistensi.
Manfaatkan waktu luang secara efektif. Dalam kesibukan tugas, selalu ada celah waktu yang bisa digunakan untuk menulis, meskipun hanya 10–15 menit. Kuncinya bukan pada lamanya waktu, tetapi pada keberlanjutan.
Jangan takut salah. Banyak orang enggan menulis karena takut tulisannya jelek. Padahal, tulisan yang baik lahir dari proses revisi dan kemauan untuk terus belajar. Menulis adalah keterampilan yang harus terus diasah, bukan bakat yang langsung sempurna.
Bergabung dengan komunitas literasi bisa menjadi solusi untuk menjaga semangat. Lingkungan yang positif akan mendorong seseorang untuk terus berkembang. Diskusi, berbagi karya, dan mendapatkan masukan akan mempercepat proses belajar.
Jawaban dari pertanyaan “Tentara menulis buku? Emang bisa?” adalah: sangat bisa. Bahkan, justru mereka memiliki cerita yang lebih autentik dan inspiratif. Kuncinya hanya satu: membangun kebiasaan. Karena menulis bukan soal siapa Anda, tetapi seberapa konsisten Anda melakukannya.
Penulis: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc.(Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)


